Repelita Jakarta - Proyeksi mengkhawatirkan mengenai masa depan mata uang Garuda disampaikan oleh pakar ekonomi, Prof Ferry Latuhihin, yang memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi anjlok hingga menyentuh angka Rp25 ribu per dolar Amerika Serikat pada paruh kedua tahun 2026.
Analisis mendalam tersebut dikemukakan dalam sebuah sesi diskusi bersama pakar hukum Universitas Indonesia, Prof Topo Santoso, yang disiarkan secara luas melalui saluran jejaring video digital Topo Santoso Official.
ADVERTISEMENT
Sentimen negatif ini muncul akibat kombinasi tekanan makroekonomi global serta penurunan derajat kepercayaan para pelaku pasar finansial terhadap ketahanan regulasi finansial domestik yang sedang berjalan.
“Saya khawatir ramalan saya terjadi lagi. Prediksi saya dolar bisa Rp22 ribu sampai Rp25 ribu di semester kedua,” kata Ferry Latuhihin dikutip Kamis (21/5/2026).
Fenomena kemerosotan nilai tukar ini dinilai cukup anomali lantaran sejumlah mata uang di kawasan Asia Tenggara justru memperlihatkan tren penguatan yang cukup signifikan terhadap pergerakan dolar Amerika Serikat.
“Currency negara ASEAN lain masih bisa menguat terhadap dolar AS, sementara rupiah terus melemah. Artinya ada sesuatu yang salah di dalam negeri,” jelasnya.
Melebarnya jurang defisit fiskal negara dituding menjadi pemicu utama yang mengikis tingkat kepercayaan lembaga pemeringkat kredit internasional hingga mengubah prospek penilaian Indonesia dari kondisi stabil menuju zona negatif.
Kondisi tersebut memicu kepanikan investor yang kemudian berbondong-bondong mengamankan aset mereka dalam bentuk valuta asing, sehingga menekan posisi rupiah ke titik terendah meskipun otoritas eksekutif berulang kali menegaskan kondisi fundamental ekonomi masih kokoh.
“Kalau fundamental ekonomi benar-benar kuat, seharusnya pasar percaya. Tapi kenyataannya dolar terus naik dan pasar saham terus tertekan,” imbuhnya.
Guna meredam gejolak yang kian liar, tata kelola portofolio keuangan negara dinilai memerlukan penyegaran figur kepemimpinan baru melalui langkah tegas dari Presiden Prabowo Subianto untuk merestrukturisasi posisi strategis di Kementerian Keuangan.
“Pak Prabowo harus segera mengganti Purbaya. Market melihat figur. Kalau dipercaya pasar, dolar tidak akan terus ngacir seperti sekarang,” katanya.
Jika pergerakan mata uang asing tersebut gagal diredam dan menembus batas psikologis tertentu, dampak sistemik berupa benturan sosial di lapisan masyarakat bawah dikhawatirkan bakal pecah akibat tingginya ketergantungan hidup publik pada instrumen utang.
“Kalau dolar tembus Rp20 ribu ke atas, potensi gejolak sosial bisa besar karena masyarakat sekarang sudah banyak hidup dari pinjaman, bukan tabungan lagi,” pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok