Berita, Timur Tengah

Profil Abbas Araghchi, Diplomat Iran yang Pernah Jadi Pejuang Garis Depan IRGC di Perang Iran-Irak dan Meraih PhD dari Inggris

Repelita.id

01 April 2026 12:17 WIB

Profil Abbas Araghchi, Diplomat Iran yang Pernah Jadi Pejuang Garis Depan IRGC di Perang Iran-Irak dan Meraih PhD dari Inggris
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang kini kerap muncul di layar televisi internasional dengan bahasa Inggris lancar dan menjadi suara tegas Republik Islam di tengah konflik 2026 ternyata memiliki latar belakang sebagai anggota garis depan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) selama sembilan tahun dalam Perang Iran-Irak.

Araghchi yang lahir di Teheran pada 5 Desember 1962 ikut bergabung dalam Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Iran saat usianya masih 17 tahun, kemudian langsung menjadi anggota IRGC secara sukarela setelah ayahnya meninggal di usia yang sama.

ADVERTISEMENT

Selama sembilan tahun penuh dari 1979 hingga 1988, Araghchi bertugas di frontlines Perang Iran-Irak bertempur langsung melawan invasi Saddam Hussein yang didukung penuh oleh Amerika Serikat, Eropa, dan beberapa negara Arab.

Pengalaman perang itu membentuk jiwanya secara mendalam dengan anti-imperialisme yang kuat, keyakinan bahwa Iran harus mandiri dan kuat, serta penghormatan besar terhadap semangat perlawanan atau resistance.

Ia sendiri pernah mengatakan dengan bangga bahwa komandan IRGC yang dulu memakaikan seragam dan senjata kepada teman-teman militer saya juga yang memberikan jas dan kemeja serta misi politik kepada saya sekarang.

Setelah perang usai tahun 1988, Araghchi masuk School of International Relations afiliasi Kementerian Luar Negeri Iran dan lulus sarjana Hubungan Internasional tahun 1989.

Ia kemudian mengambil magister Ilmu Politik di Islamic Azad University Teheran pada 1991 sebelum melanjutkan ke jenjang doktoral di University of Kent, Inggris, dan lulus PhD pada 1996.

Tesisnya berjudul The Evolution of the Concept of Political Participation in Twentieth-Century Islamic Political Thought yang menganalisis bagaimana pemikiran politik Islam modern berusaha mendamaikan kedaulatan Tuhan dengan partisipasi rakyat.

Pendidikan di Barat membuatnya fasih berbahasa Inggris, Arab, dan Persia, sehingga ia memiliki kemampuan langka untuk berbicara bahasa diplomasi yang halus dan teknis di forum internasional namun hatinya tetap revolusioner.

Karir diplomatiknya dimulai tahun 1989 di Kementerian Luar Negeri, dengan pernah menjabat sebagai Duta Besar untuk Finlandia pada 1999 hingga 2003 dan Duta Besar untuk Jepang pada 2007 hingga 2011.

Puncak ketenarannya adalah saat menjadi Deputy Chief Nuclear Negotiator di bawah Mohammad Javad Zarif, memainkan peran krusial dalam negosiasi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015.

Setelah Donald Trump keluar dari JCPOA tahun 2018, Araghchi tetap berjuang untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu di Vienna.

Pada Agustus 2024, Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya sebagai Menteri Luar Negeri Iran di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas.

Di tengah konflik panas 2026 melawan Israel dan AS yang dimulai sejak 28 Februari 2026, Araghchi menjadi suara resmi yang tegas menolak negosiasi sementara agresi berlangsung namun tetap membuka channel tidak langsung.

Kombinasi pengalaman tempur IRGC, pendidikan tinggi, dan keteguhan prinsip membuatnya dihormati di dalam negeri sekaligus diakui lawan-lawannya sebagai negosiator yang gigih dan tenang.

Kini di usia 63 tahun, Abbas Araghchi masih aktif muncul di sidang PBB, wawancara Al Jazeera, NBC, dan forum internasional lainnya sebagai representasi Iran yang tidak goyah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung