Repelita Tel Aviv - Publik Israel dilaporkan semakin ketar-ketir dan merasakan kekhawatiran yang mendalam terkait fatwa bom nuklir Iran setelah pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia.
Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat pada tanggal 28 Februari lalu di tengah eskalasi konflik kawasan.
ADVERTISEMENT
Media Israel, The Times of Israel, dalam laporannya mempertanyakan nasib fatwa bom nuklir Iran setelah negara itu tidak lagi dipimpin oleh Ali Khamenei.
Publik Israel khawatir bahwa pemimpin baru Iran yang merupakan putra dari Ali Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei, akan mencabut fatwa haram bom nuklir yang telah ditetapkan oleh ayahnya selama puluhan tahun.
The Times of Israel menyinggung sebuah dokumen rahasia yang menyebutkan bahwa Ali Khamenei pernah menetapkan fatwa haram terhadap pembuatan dan penggunaan bom nuklir oleh Iran.
"Selama dua dekade, satu dokumen menjadi penghalang antara Iran dan bom nuklir, setidaknya dalam hal diplomasi," tulis media tersebut dalam analisisnya.
"Fatwa Ayatollah (Ali) Khamenei yang menentang senjata nuklir dikutip dalam negosiasi internasional, dirujuk oleh analis Barat, dan diperlakukan oleh sejumlah pemerintah sebagai bukti nyata bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir. Pada 28 Februari 2026, Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Fatwa itu pun lenyap bersamanya," lanjut laporan tersebut.
Kekhawatiran publik Israel semakin menjadi-jadi karena Iran saat ini telah mencapai tingkat pengayaan 60 persen untuk 440 kilogram uranium.
Tingkatan pengayaan tersebut dianggap oleh para ahli militer sangat cukup untuk dilanjutkan menjadi minimal 10 buah senjata nuklir siap pakai.
Uranium tingkat tinggi tersebut diyakini masih aman tersimpan di terowongan bawah tanah yang berlokasi di Kota Isfahan, jantung program nuklir Iran.
Media Israel lainnya, Ynet, mengutip langsung isi dokumen yang menyatakan fatwa haram penggunaan bom nuklir yang ditetapkan oleh mendiang Ali Khamenei.
"Kami percaya bahwa selain senjata nuklir, jenis senjata pemusnah massal lainnya, seperti senjata kimia dan biologi, menimbulkan ancaman serius bagi umat manusia. Bangsa Iran, yang sendiri telah menjadi korban senjata kimia, merasakan lebih dari bangsa mana pun bahaya yang disebabkan oleh produksi dan penimbunan senjata tersebut, dan siap menggunakan semua cara yang tersedia untuk menghadapi ancaman tersebut," demikian isi dokumen yang dikutip oleh Ynet.
"Kami menganggap penggunaan senjata tersebut sebagai 'haram,' dan percaya bahwa adalah kewajiban semua orang untuk bekerja melindungi umat manusia dari bencana besar ini," lanjut pernyataan dalam dokumen bersejarah tersebut.
Fatwa itu disebut pertama kali dikeluarkan oleh mendiang Ali Khamenei pada era 1990-an, namun dokumen resminya baru terungkap secara luas pada tahun 2003.
Saat itu program nuklir Iran untuk kepentingan sipil mulai membetot perhatian masyarakat internasional dan menimbulkan kecurigaan.
Tekanan dari negara-negara kuat dunia pun datang bertubi-tubi menghimpit Iran yang semakin terisolasi.
Teheran kemudian menampilkan dokumen berisi fatwa Ali Khamenei tersebut sebagai bagian dari upaya Republik Islam untuk melawan tuduhan bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir secara diam-diam.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga pernah menegaskan bahwa Iran terikat oleh fatwa dari pemimpin tertinggi Ali Khamenei sehingga mustahil untuk mengembangkan nuklir menjadi senjata pemusnah massal.
"Ketika dia mengumumkan bahwa kita tidak akan memiliki senjata nuklir, itu berarti kita tidak akan memilikinya," kata Pezeshkian sebelum putaran ketiga pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat.
AS selama ini terus menuding Teheran berupaya mendapatkan senjata nuklir secara sembunyi-sembunyi meskipun Iran selalu membantahnya.
Kini, fatwa haram tersebut berpotensi besar untuk dicabut jika Iran terus berada dalam situasi terancam akibat serangan-serangan brutal dari Israel dan sekutunya.
Terlebih lagi, Tel Aviv diketahui disebut-sebut bisa nekat menggunakan senjata nuklir mereka sendiri untuk membumihanguskan Iran dalam hitungan jam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok