Berita, Internasional

Putin Peringatkan Konsekuensi Mengerikan Jika Perang Iran Meletus Lagi

Repelita.id

30 April 2026 14:54 WIB

Putin Peringatkan Konsekuensi Mengerikan Jika Perang Iran Meletus Lagi
Foto: Istimewa

Repelita Moskow - Di tengah kebuntuan perundingan damai yang berkepanjangan dengan Iran, Presiden Rusia Vladimir Putin kembali melontarkan peringatan keras kepada pemimpin Amerika Serikat Donald Trump.

Peringatan tersebut secara spesifik membahas tentang adanya "konsekuensi mengerikan" jika perang skala penuh kembali pecah di masa gencatan senjata yang masih sangat rapuh saat ini.

ADVERTISEMENT

Dilansir dari media Newsweek pada Kamis, 30 April 2026, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov mengungkapkan isi pembicaraan hangat antara kedua pemimpin dunia.

Ushakov menjelaskan bahwa Putin telah menghubungi Trump secara langsung melalui sambungan telepon pribadi untuk membahas situasi kritis di kawasan Timur Tengah.

Dalam percakapan yang berlangsung tegang tersebut, Putin menegaskan bahwa dimulainya kembali permusuhan akan menjadi langkah yang sangat berbahaya bagi stabilitas global secara keseluruhan.

"Putin mengatakan kepada Trump bahwa permusuhan yang diperbaharui akan menjadi berbahaya dan tidak dapat diterima terutama operasi darat apapun di wilayah Iran," ungkap Ushakov kepada kantor berita negara Rusia TASS.

Peringatan keras yang dilontarkan Kremlin ini muncul setelah Trump secara resmi menolak proposal baru yang diajukan oleh Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dengan penolakan tegas tersebut, maka blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat secara sepihak tetap berlaku dan semakin memperketat tekanan terhadap ekonomi Teheran.

Meskipun demikian, Putin menilai bahwa keputusan untuk memperpanjang masa gencatan senjata adalah langkah yang tepat dan bijaksana dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini.

Gencatan senjata memberikan kesempatan berharga bagi kedua belah pihak yang bertikai untuk kembali duduk di jalur negosiasi yang konstruktif.

Sementara itu di sisi lain, Trump memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan saat ditemui awak media di Oval Office pada Rabu, 29 April 2026 sore waktu setempat.

Ia mengungkapkan bahwa Putin sempat menawarkan bantuan teknis terkait isu program pengayaan uranium Iran yang menjadi sumber utama ketegangan.

Namun alih-alih menerima tawaran tersebut, Trump justru dengan tegas mendesak pemimpin Rusia itu untuk fokus pada hal lain yang dianggapnya lebih mendesak.

"Saya katakan kepada Putin, 'Saya jauh lebih suka Anda terlibat dalam mengakhiri perang dengan Ukraina'," ujar Trump kepada wartawan yang berkumpul di ruangan tersebut.

Di tengah semua manuver diplomatik yang silih berganti, militer Iran menyatakan tetap berada dalam kondisi siaga tempur paling tinggi meskipun gencatan senjata tengah berlangsung.

Teheran menegaskan dengan lantang bahwa angkatan bersenjata Iran tidak menganggap perang melawan musuh telah benar-benar berakhir.

Juru bicara angkatan darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menyebut bahwa pihaknya terus memperbarui target militer dan menambah persenjataan selama jeda pertempuran ini.

“Kami tidak menganggap perang telah selesai. Sejak hari pertama gencatan senjata, kami terus memperbarui target, menyempurnakan bank sasaran, dan menjaga kesiapan tempur,” ujar Akraminia dilansir dari Tasnim News pada Rabu, 29 April 2026.

Ia menambahkan dengan tegas bahwa Iran juga telah memproduksi dan memodernisasi berbagai peralatan militer terbaru secara besar-besaran.

Akraminia menegaskan kondisi negara saat ini masih diperlakukan layaknya situasi perang penuh, bukan masa damai yang sesungguhnya.

Pemantauan, pengawasan, dan penguatan pasukan terus dilakukan oleh militer Iran tanpa henti sepanjang waktu di semua lini.

Jika musuh yang tergabung dalam koalisi pimpinan AS kembali berani menyerang wilayah kedaulatan Iran, negara itu mengklaim siap merespons dengan metode dan persenjataan baru.

“Setiap agresi baru akan dibalas dengan respons yang lebih menghancurkan dari sebelumnya,” tegas sang jenderal di akhir pernyataannya.

Di tengah kebuntuan perundingan damai dengan Iran yang berlangsung di Islamabad Pakistan, mendadak beredar kabar besar yang mengguncang dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah mengeluarkan perintah rahasia terkait kebijakan baru terhadap Iran yang sangat ekstrim.

Perintah rahasia tersebut adalah sebuah blokade maritim berskala besar terhadap Iran sehingga langkah itu dinilai melampaui batas norma internasional.

Tujuan utama dari kebijakan kontroversial itu adalah memaksa Teheran menyerah total dalam persoalan program nuklir mereka yang semakin maju.

Kabar mengejutkan tersebut pertama kali diungkap oleh media terkemuka asal Amerika, The Wall Street Journal (WSJ).

Menurut laporan WSJ yang dikutip secara luas, perintah presiden tersebut bukan sekadar blokade biasa dalam sejarah konflik modern antar negara.

Ini adalah blokade yang dirancang berkepanjangan untuk mencekik ekonomi Iran secara perlahan namun pasti hingga titik terendah.

Blokade tersebut dibuat agar berlangsung terus-menerus tanpa batas waktu yang jelas, setidaknya sampai Iran menunjukkan kepatuhan penuh terhadap semua tuntutan Washington.

Tuntutan itu bukan hanya menghentikan pengayaan uranium, tetapi juga membongkar habis seluruh fasilitas nuklir yang dimiliki Teheran.

Sontak keputusan kontroversial ini langsung memicu reaksi berantai di pasar komoditas global yang sensitif terhadap isu geopolitik.

Harga minyak dunia sempat menanjak tipis dalam perdagangan awal sebagai respons atas bocornya berita tersebut ke publik.

Situasi ini membuat para analis kebijakan luar negeri di seluruh dunia pun kembali sibuk meramal skenario apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pertanyaan besarnya adalah apakah langkah ini merupakan pertanda perang terbuka yang sesungguhnya atau hanya sekadar taktik negosiasi ala Trump yang ekstrim.

Dalam terminologi militer dan hukum laut internasional, blokade berarti penutupan total akses masuk dan keluar suatu wilayah perairan negara berdaulat.

Kapal perang Amerika Serikat yang dilengkapi persenjataan canggih akan berjaga di titik-titik strategis lokasinya yang paling mungkin berada di sekitar Selat Hormuz.

Selat ini merupakan jalur vital bagi sepertiga perdagangan minyak global yang melewati transportasi laut setiap harinya.

Jika kebijakan blokade tersebut diterapkan secara penuh dan tanpa kompromi, tidak ada satu pun kapal tanker yang boleh lewat tanpa izin resmi dari Amerika Serikat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung