Berita, Nasional

Rizal Fadillah Usul Bangun Rumah Sakit Jiwa Khusus Pejabat Akibat Maraknya Korupsi

Repelita.id

27 July 2026 22:26 WIB

Rizal Fadillah Usul Bangun Rumah Sakit Jiwa Khusus Pejabat Akibat Maraknya Korupsi
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pemerhati masalah kenegaraan melontarkan gagasan unik nan menggelitik terkait kondisi mental para pemegang kekuasaan yang dinilai mengalami penyimpangan akibat ambisi duniawi.

Usulan mendirikan fasilitas perawatan jiwa khusus bagi penyelenggara negara disampaikan sebagai bentuk kritik tajam terhadap maraknya praktik rasuah serta kebijakan yang mengabaikan kepentingan rakyat.

ADVERTISEMENT

Tekanan jabatan serta lingkungan istana dipandang menjadi pemicu utama rusaknya kewarasan moral para elite dalam mengelola negara.

"Dalam obrolan dengan seorang kiai yang menerawang kondisi amburadulnya negara akibat para pejabat yang tidak amanah, muncul persepsi bahwa sekarang ini banyak pejabat yang sakit jiwa," ujar Rizal Fadillah.

Obsesi berlebihan terhadap kekuasaan dan status sosial melahirkan mentalitas serakah yang menjangkiti para punggawa pemerintahan.

"Pengaruh posisi dan lingkungan yang menjadi penyebabnya," ucapnya.

Gejala kejiwaan tersebut bermanifestasi dalam bentuk kecemasan status, halusinasi kekuasaan, hingga dorongan untuk memperkaya diri secara instan.

"Depresi atas rayuan relasi sosial, cemas berjarak kekayaan dengan sejawat atau atasan, mania pada pengaruh, sanjungan, nafsu besar untuk menaikkan status simbol, serta budaya serba cepat atau instan," ujarnya.

Tindakan memperkaya diri melalui jalur haram dinilai murni berasal dari ketamakan personal alih-alih desakan kebutuhan hidup yang mendesak.

"Mental disorders sesungguhnya adalah mental illness. Korup adalah perilaku sakit jiwa," tegasnya.

"Bukan karena kebutuhan yang menjadi penyebabnya, melainkan keserakahan. Ada mania, depresi, atau halusinasi," lanjut Rizal Fadillah.

Penularan mental bobrok tersebut dikhawatirkan menjangkiti seluruh lini birokrasi pemerintahan dari level tertinggi hingga terbawah.

"Pejabat tinggi atau rendah mudah tertular bahkan saling menularkan. Bukan orang awam yang rentan sakit jiwa, tetapi pejabat," katanya.

Pengelolaan kekayaan alam nusantara yang dianggap lebih memihak kekuatan asing turut menjadi sorotan satire dalam perbincangan tersebut.

"Kata si Cepot, nikel diserahkan ke asing, batu bara untuk asing, timah diberikan kepada asing, nah utang diserahkan kepada rakyat," katanya.

Beban krisis ekonomi dituding kerap ditimpakan kepada pundak rakyat kecil sementara para pemilik modal hidup dalam gelimang kemakmuran.

"Gunung milik pejabat, hutan mengayakan konglomerat, laut menyejahterakan aparat. Ketika beban utang berat, berpidato bahwa kesulitan bangsa harus ditanggung bersama seluruh rakyat."

Gagasan pendirian suaka mental bagi penyelenggara negara diajukan sebagai solusi simbolis demi memulihkan kesehatan tata kelola republik.

"Benar, perlu segera dibuat Rumah Sakit Jiwa Khusus Pejabat agar ke depan negara menjadi sehat dan kuat," ujarnya.

Gambaran surealis mengenai fasilitas tersebut diibaratkan sebagai tempat berkumpulnya para penguasa yang kehilangan akal sehat nurani.

"Di rumah sakit itu ada orang yang berdiri sambil berpidato ngalor-ngidul, ada yang berjas dan berdasi menjajakan nasi basi, yang lain mengikatkan tambang ke leher sambil bernyanyi 'izin oh izin'," tuturnya.

"Ada yang kerjanya mencangkul-cangkul seolah membuat bunker. Ada pula yang mengepit map kosong dan berkata ke kiri dan ke kanan, 'Ini ijazahku, ini ijazahku.' Dasar gila," lanjutnya.

Simbolisasi tersebut ditujukan bagi para pemimpin yang memiliki kelengkapan panca indra namun lumpuh rasa kepedulian sosialnya (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung