Berita, Nasional

Rizieq Shihab: Kalimat Pergi ke Yaman Keliru, Dipengaruhi Jenderal Baliho dan Menteri Segala Urusan

Repelita.id

04 May 2026 21:15 WIB

Rizieq Shihab: Kalimat Pergi ke Yaman Keliru, Dipengaruhi Jenderal Baliho dan Menteri Segala Urusan
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ruang ceramah itu penuh gema ketika suara lantang Imam Besar Front Persaudaraan Islam Habib Rizieq Shihab memantul, menyentuh telinga, mengaduk emosi, dan menekan satu titik yang ia anggap genting yaitu ucapan pemimpin yang menyeret nama Yaman ke dalam pusaran kritik domestik.

Ia memulai dari hal yang sederhana tetapi terasa tajam bagi telinga yang mendengar.

ADVERTISEMENT

Bagi Rizieq, ucapan seorang pemimpin bukan sekadar kalimat yang terlepas di udara melainkan cermin dari lingkungan yang mengitarinya.

Ia menuding bahwa perubahan nada pernyataan Presiden tidak lahir dari ruang hampa karena ada pengaruh dari percakapan lingkar dalam yang menurutnya ikut membentuk arah kata.

Dalam ceramah yang disiarkan kanal Islamic Brotherhood Television pada awal Mei 2026, Rizieq menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyarankan pihak-pihak pengkritik untuk pergi ke Yaman.

Kalimat itu menurut Rizieq bukan hanya keliru tetapi juga berbahaya jika dibiarkan mengendap sebagai pola komunikasi politik sehari-hari.

Ia mempertanyakan mengapa Yaman yang merupakan negara sahabat dibawa dalam konteks pengusiran simbolik terhadap warga negara sendiri.

Nada suara Rizieq naik ketika ia menuding adanya pengaruh dari sosok yang ia sebut sebagai menteri segala urusan di masa lalu.

Ia juga menyebut figur lain yang ia labeli sebagai jenderal baliho yang dianggap membawa watak komunikasi keras bahkan cenderung provokatif.

Rizieq menyiratkan bahwa kedekatan Presiden dengan tokoh-tokoh tersebut berpotensi menular dalam bentuk diksi dan sikap yang kurang santun.

Lebih jauh lagi ia mengemukakan bahwa ungkapan pergi ke Yaman terkait erat dengan isu identitas dan sejarah bangsa Indonesia.

Yaman menurutnya bukan sekadar nama geografis karena ia adalah bagian dari jejak panjang peradaban Islam di Indonesia.

Para ulama hingga jaringan keilmuan yang membentang dari pesisir Sumatera hingga timur Nusantara berasal dari Yaman.

Menyebut Yaman dalam konteks negatif menurut Rizieq sama saja dengan mereduksi sejarah panjang perjuangan Islam di Indonesia.

Di titik ini kritiknya berubah menjadi seruan keras kepada masyarakat luas.

Ia meminta masyarakat khususnya kelompok masyarakat sipil dan organisasi keagamaan untuk tidak tinggal diam.

Kritik yang membangun dan disampaikan dengan santun kata Rizieq harus dijawab dengan kebijakan bukan dengan pernyataan yang memperuncing sentimen.

Ia juga mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang sejati diuji bukan saat dipuji tetapi saat menerima keberatan dari rakyatnya.

Meskipun disampaikan dengan gaya retorika yang keras dan penuh emosi, pesan yang hendak ditegaskan Rizieq berputar pada satu hal yaitu kehati-hatian dalam berbicara di ruang publik.

Sebab dalam iklim politik yang rapuh oleh polarisasi, satu kalimat bisa menyebabkan percikan kecil di awal tetapi berpotensi membakar luas jika jatuh di tempat yang kering.

Di luar gedung dunia tetap bergerak tanpa henti sementara lalu lintas digital tak pernah berhenti berputar.

Namun di dalam ruang ceramah itu satu kalimat masih menggantung di udara.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah ucapan seorang pemimpin cukup kuat untuk merangkul perbedaan atau justru tanpa sadar membuka jarak dengan rakyatnya sendiri.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung