Repelita Jakarta - Pengamat politik Rocky Gerung menghadiri pertemuan perdana Dewan Pertimbangan Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Kehadirannya menjadi perhatian publik karena agenda pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
Saat ditemui awak media selepas pertemuan, Rocky Gerung menjelaskan batasan pembahasan yang berlangsung dalam forum tersebut.
"Rapatnya soal apa Bang apaagian kerja dan pemastikan bahwa isu publik adalah konsumsi pantim bras Tetapi boleh bicara sebagai akademisi," ujarnya pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Ia juga menjelaskan suasana pertemuan yang dihadiri sejumlah kalangan akademisi.
"Saya boleh kasih kuliah segala macam juga teman-teman kan banyak akademisi itu yang hadir lengkap Ah mungkin ada hai dua orang," tuturnya.
Mengenai berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, Rocky menyebut sejumlah isu turut dibahas dalam pertemuan tersebut.
"Isu apa aja ini ada urusan tuh ngomong dengan tuh yang penting isu apa aja yang dibahas semua isu yang lagi salah satunya mungkin soal putusan MK tadi juga dibahas Bung tadi baru soal prosedur membahas belum bicara substansinya," ucapnya.
Rocky juga merespons pertanyaan mengenai pembagian tugas serta kritik yang muncul di media sosial.
"Pembagian layani wawancarau itu Bung banyak disindir di sosial media gimana Bung Siapa yang nyindir gue banyak yang nyir Bung Rocky Bung Ya biasa itu kontroversi ada itu ya Banyak pendukung Bung Rocky yang kecewa gimana Bung itu artinya mantan tapi masih mantau Baik saya ganda adalah memulihkan nama baik saya di publik Ini sudah 3 hari dicanci dihina dilecehkan Perintah pertama ya Bang ya Tugas pertama saya ganda adalah memulihkan nama baik saya di publik Ini sudah 3 hari itu dicanci dihina dilecehkan kan enggak ada satu pun yang peleain gue Kurang ajarakung lagi macamlah," paparnya.
Ia kemudian menyoroti persoalan komunikasi di lingkungan pemerintahan yang menurutnya menjadi salah satu masalah penting.
"Apa yang sebetulnya jadi problem dari bangsa ini ketidakmampuan untuk mengolah bahasa tubuh Karena komunikasi pertama-tama adalah bahasa tubuh Itu berlaku semua institusi Presiden punya pikiran Presiden punya visi Presiden punya niat Presiden punya intensi Presiden punya urgensi jembatan ke publiknya kadang kala dirusak sendiri oleh birokrasi rusakan itulah yang diintip oleh netizen itu yang terjadi," tuturnya.
Rocky menekankan pentingnya penggunaan logika dalam menghadapi persepsi masyarakat.
"Jadi ada hal yang ingin kita pastikan bahwa posisi-posisi strategis dalam upaya untuk memenangkan hati publik tidak mungkin didasarkan pada konfrontasi faktual Karena isi pertama dari komunikasi adalah persepsi bukan fakta bukan data Saya bisa tunjukkan semua prestasi presiden Saya bisa dadarkan semua hasil yang bahkan sedang ditunggu oleh publik Tapi dengan satu kebencian data itu difalsifikasi Itu selesai," tegasnya.
Ia juga menyinggung relasinya dengan sejumlah tokoh publik yang berada di lingkungan kekuasaan.
"Jadi ada strategi yang mungkin kita sebut sebagai keunikan dari seorang figur Saya berteman baik dengan Pak Sari teman pikir masih aktivis lalu jadi teman berkelahi ketika dia ada di kekuasaan Tapi itu yang kemudian diingat orang Padahal perbedaan saya dengan qodari hanya sebatas 30 menit cekcok di depan TV itu aja Demikian juga kondisi yang lain di republik ini Marah ke semua arah artinya marah tanpa arah kita coba bayangkan ganda masuk di ruang di tempat seluruh kehidupan publiknya akan di kuliti oleh netizen Ganda pernah ini ganda pernah itu Kemarin dia bahkan sebenti baru diangkat dia sudah ngoceh tentang Gibran Padahal itu ada itu sebelum walaupun substansinya enggak saya protes Tapi kan itu kejujuran tuh hari-hari ini orang nunggu apa keputusan Mahkamah Konstitusi enggak bisa kita sembunyikan Tidak mungkin seluruh kalimat kita edit untuk melayani kedunguan para sebut aja kedunguan mereka yang tidak mampu untuk mencernah isi komunikasi dan kedungguan itu yang sekarang dioperasikan melalui sistem algoritma," bebernya.
Rocky kemudian memberikan ilustrasi mengenai informasi yang keliru akibat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
"Ada berapa banyak koperasi yang salah tempat desa di di pinggir desa tidak ada kita cari di hutan Di hutan enggak ada kita cari di kuburan Di kuburan enggak ada kita cari di tengah laut Informasikan bahwa memang ada kantor koperasi bukan koperasi bangunan koperasi di tengah hutan bangunan koperasi di tengah kuburan bangunan koperasi di tengah laut Ada berapa banyak ada R.73 sampai hari ini Gimana mengatasi pindahin aja Kan gampang memindahkan Rp8.373 koperasi yang salah tempat gampang dipindahinnya Pakai apa ai pindahin aja klek Kan itu fakta yang dibuat oleh AI yang kemudian dikutip 800 8.300 300 kali Lalu orang anggap ada R.375 kali Rasu persepsi sudah terbentuk koperasi itu salah tempat Padahal cuman tujuh yang salah tempat Nah bagian ini enggak mungkin kita bantai dengan data cuman tujuh Tidak sudah terbentuk persepsi di situ," urainya.
Menurut Rocky, fenomena persepsi masyarakat di media sosial membutuhkan pendekatan komunikasi tertentu.
"Taking the impossible counter logics Hanya itu yang bisa dilakukan apalagi netizen ini begitu ditunjukkan logika lu itu well penuh dengan fesis itu Terangin bagaimana mungkin ada 8 juta padahal proyeknya cuma Rp2.000 Oh begitu ya Pak Nah dia ngerti Jadi kita ingin ada satu komunikasi yang betul-betul attacking the data by putting logics first Ini buat netizen yang terdidik.
Tapi bimana dengan mereka yang memang enggak mungkin dibenahi logikanya Ya bilangin aja Oke itu buat kalian Apalagi kalau kita ngeyal sedikit ya yang 8 juta itu yang ada di kuburan yang ada di laut yang ada di hutan itu sebetulnya koperasi bayangan dibuat oleh kabinet bayangan Koperasi bayang-bayang kan enak bercandanya begitu kan," selorohnya.
Sebagai penutup, Rocky memaparkan pandangannya mengenai tugas seorang pejabat komunikasi publik.
"Jadi sekali lagi ada keahlian khusus memang untuk ngeyel tetapi dengan prinsip bahwa apapun yang diucapkan oleh seorang pejabat komunikator dia mesti jadi impact terhadap perubahan cara berpikir perubahan sikap dan itu yang namanya penampilan awalnya memang enggak cocok di situ dalam evaluasi.
Ayo Nah ini saya saya mau terang ini sebagai persahabatan karena Pak Kodari dilatih untuk attacking Bukan untuk attacking the impossible tapi attacking the possibility Itu Pak Budari sebenarnya lebih pantas jadi menan Brimob Karena itu kalau beliau dipindahkan ke Wantim itu yang paling tepat karena dia akan mengatur strategi komunikasi tanpa terlihat wajah gantengnya itu," pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok