Repelita [Yogyakarta] - Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam mengenai kondisi perpolitikan nasional yang dinilai telah kehilangan arah di tengah memudarnya gerakan sipil.
Ia menilai bahwa kondisi saat ini merefleksikan situasi kritis pada tahun sembilan puluh delapan, di mana saat itu psikologi kepemimpinan serupa memicu lahirnya reformasi.
ADVERTISEMENT
Namun, ia menyayangkan arah pergerakan yang terjadi pasca-reformasi karena dinilai gagal mempertahankan esensi dari semangat perubahan struktural secara kualitatif.
Pandangan tersebut disampaikan dalam sebuah mimbar diskusi akademis bertajuk Terus Terang yang diselenggarakan di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) pada 19 Mei 2026.
"Seseorang itu hari-hari ini sedang sangat gelisah tuh dan kita tunggu akibat dari kegelisahan dia secara psikologis," ujar Rocky Gerung saat menganalisis situasi psikologi politik terkini.
Ia menambahkan bahwa bangsa ini sedang terjebak dalam ketidakpastian yang pelik, bukan sekadar disebabkan oleh fluktuasi mata uang rupiah semata, melainkan ketidakpastian sistemis.
Logika transisi menuju demokrasi yang seharusnya berjalan dinilai masih mandek, karena masyarakat sipil baru mampu keluar dari otoritarianisme tanpa berani melangkah lebih jauh.
Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena merangkaknya kekuatan militer ke dalam ranah sipil yang dianggapnya sengaja diproduksi untuk memunculkan rasa aman palsu di masyarakat.
"Rasa aman itu timbul dari persahabatan mereka yang mampu menghidupkan deliberatif demokrasinya," tegas mantan pengajar filsafat Universitas Indonesia tersebut dalam paparannya.
Ia juga menyoroti sistem peradilan di tanah air yang kini dianggapnya telah bergeser fungsi menjadi sebuah pasar gelap hukum tempat terjadinya berbagai transaksi rahasia.
Hilangnya keadilan substantif ini dipicu karena institusi pendidikan dan pengadilan saat ini cenderung hanya mengajarkan kepatuhan pada teks undang-undang tanpa memahami esensi hukum.
Lebih lanjut, ia melihat adanya pelemahan masif pada kelompok masyarakat sipil, termasuk organisasi keagamaan besar yang kini dinilai lebih sibuk mengurusi konsesi pertambangan.
Oleh karena itu, ia mendesak agar ruang-ruang diskusi alternatif kembali diperkuat guna memproduksi politik argumentasi demi menghentikan kedunguan yang terjadi di dalam pemerintahan.
"Kita ingin ada argumen di dalam pertengkaran politik, Tanaka mengajarkan kita cara berargumen dengan logic dialectic and materialism," tutur Rocky Gerung menutup argumentasinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok