Berita, Nasional

Rocky Gerung dan Syahganda Direkrut Prabowo, Gibran Disindir Tak Tangkap Sinyal untuk Mundur daripada Dimakzulkan

Repelita.id

10 October 2026 16:10 WIB

Rocky Gerung dan Syahganda Direkrut Prabowo, Gibran Disindir Tak Tangkap Sinyal untuk Mundur daripada Dimakzulkan
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Perbincangan hangat mengenai dinamika politik nasional pasca-pemilihan presiden saat ini tengah menjadi pusat perhatian publik di berbagai platform media sosial.

Opini publik tersebut salah satunya terpantau dalam unggahan yang dibagikan pada 10 Oktober 2026 oleh akun @maroef_irfhany melalui sebuah platform digital.

ADVERTISEMENT

Dalam postingan tersebut, ia menyatakan rasa sayangnya karena Gibran beserta para pendukungnya dinilai tidak mampu membaca isyarat politik yang berkembang belakangan ini.

Akun @maroef_irfhany menuliskan secara lengkap pandangannya yaitu, "Terpantau sayangnya Gibran dan para termulmya tidak bisa menangkap signal ini, bayangkan hanya beberapa hari sebelum putusan MK dibacakan, Rocky Gerung dan Syahganda direkrut masuk ke dalam kekuasaan Prabowo, hampir pasti tujuannya untuk membatasi gerak gerik Gibran bahkan melontarkannya keluar dari Istana, karena jika hukuman ini tidak dilakukan akan tercatat dalam sejarah ia pernah melindungi pelaku curang Mestinya Gibran cerdas, Mundur lebih terhormat daripada mengikuti angket utk pemakzulan".

Tidak lama setelah melemparkan argumen pertamanya, pengguna digital tersebut kembali menambahkan komentar lanjutan terkait mekanisme hukum di Mahkamah Konstitusi.

Ia menegaskan argumen tambahannya dengan menuliskan respons singkat yakni, "Kan gak mungkin MK yg nyuruh mundur".

Unggahan mengenai spekulasi posisi wakil presiden tersebut langsung memicu berbagai reaksi serta pandangan alternatif dari warganet lainnya yang ikut mencermati situasi.

Tanggapan kritis datang dari akun @kaitmikh yang melihat fenomena penyusunan kekuatan politik di parlemen dari sudut pandang strategi jangka panjang demi menghadapi kontestasi berikutnya.

Melalui kolom komentar, ia menuangkan analisanya secara utuh yakni, "cara pandang yg aneh, dlm sistem demokrasi multi partai spt di indonesia (non otorite/mono party) merangkul koalisi tanpa menyisakan ruang oposisi di parlemen (0%) justru adl hal yg sangat fatal & berbahaya, pecah kongsi spt ini justru bisa dimanfaatkan oleh kubu solo (jokowi) untuk melihat gambaran kekuatan dan peta jelang 2029, dia akan bisa lihat dgn jelas mana yg nanti searah, mana yg beda arah, hubungannya dgn ruang 0% oposisi di parlemen yg sangat tidak bijaksana itu adl soal deteren dan..".

Di sisi lain, terdapat pula pengguna jejaring sosial yang menilai bahwa dinamika politik yang terjadi saat ini merupakan kegagalan dari upaya penjegalan terhadap kubu tertentu.

Pendapat berseberangan tersebut disampaikan secara tertulis oleh akun @squidward.j.quincy yang menyatakan, "Bukan tidak menangkap sinyal pak, hanya saja percobaan untuk membegal prabowo sudah gagal. total. *menurut keyakinan saya. Itu lah konteks "pakar pakar goblok", bisa bisanya ditunggangi berkali kali."

Selain perdebatan mengenai posisi koalisi, muncul pula pertanyaan dari netizen yang merasa heran dengan besarnya desakan publik yang menginginkan pergantian posisi strategis tersebut.

Keheranan atas fenomena desakan tersebut diungkapkan secara langsung oleh akun @agricolaterram dengan menuliskan, "Gw cuma heran, kenapa sih kalian nafsu bgt pengen Gibran diganti? 😛😛😛😛".

Pertanyaan bernada keheranan itu kemudian langsung mendapat jawaban yang menyinggung mengenai dugaan pelanggaran aturan perundang-undangan yang berlaku.

Tudingan mengenai keabsahan syarat administratif tersebut dilontarkan secara terbuka oleh akun @suzannabasyir yang menegaskan, "Karna ga punya ijazah SMA artinya melanggar UU".(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung