Repelita [Jakarta] - Potongan video Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi yang membahas kemungkinan adanya "percepatan" sebelum 2029 kembali menjadi perhatian publik.
Pernyataan tersebut memicu tafsir politik setelah beredar bersamaan dengan rencana aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
Roy Suryo, tersangka dalam perkara dugaan fitnah ijazah palsu Joko Widodo, menilai pernyataan Budi Arie perlu mendapat perhatian serius karena dapat menimbulkan keresahan apabila tidak dijelaskan secara utuh.
"Menurut saya, bocoran video satu menit 40 detik yang berisi statement Budi Arie Setiadi, salah satu ketua relawan di samping Jokowi yang sudah viral kemarin adalah statement yang berbahaya," kata Roy, Rabu (26/8/2026).
Roy kemudian menghubungkan isu tersebut dengan agenda demonstrasi yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Ia menilai persoalan menjadi lebih sensitif apabila istilah "percepatan" diarahkan pada kemungkinan perubahan politik sebelum masa yang seharusnya berakhir pada 2029.
"Bahkan terindikasi bisa makar dengan memanfaatkan aksi demo masyarakat dalam waktu dekat sebelum 2029, dengan analogi demo 1998," ujar Roy.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian Roy terhadap potongan video yang beredar dan bukan kesimpulan hukum mengenai adanya makar.
Roy meminta maksud Budi Arie disampaikan secara terbuka agar potongan pernyataan tersebut tidak terus berkembang menjadi spekulasi di tengah masyarakat.
Dalam video yang menjadi sorotan itu, posisi Jokowi yang berada di dekat Budi Arie juga ikut diperhatikan Roy.
Menurut Roy, Jokowi terlihat berada di samping Budi Arie ketika pembicaraan mengenai kemungkinan "percepatan" disampaikan.
"Lucunya, Jokowi yang berada tepat di sampingnya sengaja diam saja, maka tidak bisa disalahkan bila ada yang berpendapat dialah justru mastermind statement tersebut," kata Roy.
Roy menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud memastikan adanya keterlibatan Jokowi dalam pernyataan tersebut.
Namun, keberadaan Jokowi dalam video dinilai menambah pertanyaan mengenai konteks pembicaraan yang disampaikan Budi Arie.
Roy juga membawa perhatian pada pertemuan relawan Jokowi yang disebut berlangsung pada Senin, 24 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, berlangsung sekitar pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dan dihadiri Jokowi bersama sejumlah tokoh.
"Selain Jokowi dihadiri oleh Zulfan Lindan, HM Darmizal, Christoporus Suhadi, Budhius Maruf Piliang, dan sebagainya, total sekitar 60 orang memang terasa menantang," ujar Roy.
Roy kemudian mengaitkan pertemuan tersebut dengan rencana aksi massa yang akan berlangsung pada 27 Agustus 2026.
"Karena seperti akan menyikapi atau menunggangi demo 27 Agustus 2026," katanya.
Ia juga mempertanyakan respons aparat intelijen terhadap video yang menurutnya telah menyebar luas.
"Saya terus terang heran mengapa aparat intelijen tampak belum tanggap dengan video yang sudah sangat viral itu?" ujar Roy.
Roy meminta Budi Arie memberikan penjelasan mengenai substansi pernyataan yang disampaikannya dalam video tersebut.
"Seharusnya minimal Budi Arie bisa dimintai keterangan. Apa maksud dan tujuan statement tersebut, karena sudah menimbulkan keresahan dan membuat gaduh masyarakat dengan potongan video tersebut," kata Roy.
PSI Ikut Menyoroti
Sorotan terhadap pernyataan Budi Arie juga datang dari internal kelompok pendukung pemerintah.
Ketua DPP PSI Bidang Litbang Dedek Prayudi menilai pembahasan mengenai kemungkinan percepatan siklus politik lima tahunan justru dapat memunculkan dugaan dan spekulasi baru.
Menurut Dedek, perhatian para pendukung pemerintah seharusnya diarahkan pada penguatan kekompakan koalisi.
Ia juga menilai penyampaian pernyataan tersebut ketika Budi Arie berada di samping Jokowi dapat membuat posisi mantan presiden itu menjadi sulit.
"Ini seperti menjebak Pak Jokowi," ujar Dedek, Rabu (26/8/2026).
Dedek mengaku mempertanyakan alasan Budi Arie mengangkat isu kesiapan menghadapi kemungkinan percepatan siklus politik lima tahunan.
Menurutnya, apabila memang terdapat isu mengenai skenario tersebut, fokus pendukung pemerintah seharusnya bukan membicarakan kesiapan menghadapi percepatan.
"Kita sibuk menjaga kekompakan koalisi, dia berbicara kesiapan menghadapi percepatan siklus 5 tahunan di samping Pak Jokowi," kata Dedek.
Dedek menilai soliditas pendukung pemerintah justru harus diperkuat menghadapi dinamika politik.
"Kalau memang ada isu percepatan, bukan kesiapan yang harus dikumandangkan, tapi kerapatan barisan yang harus semakin dijaga," ujar Dedek.
Potongan video Budi Arie kini menjadi bahan perdebatan di tengah persiapan aksi demonstrasi pada 27 Agustus 2026.
Sampai saat ini, istilah "percepatan" dalam potongan video tersebut masih menjadi bahan tafsir politik dan belum memiliki penjelasan konteks yang lebih lengkap dalam materi yang beredar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok