Repelita Washington DC - Bukan bom atom atau rudal hipersonik yang membuat Amerika Serikat tekuk lutut secara finansial, melainkan jet-jet tempur tua berusia lebih dari setengah abad peninggalan era Perang Dingin.
Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung sekitar empat puluh hari terakhir menyisakan tagihan fantastis hingga mencapai 5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp85 triliun berdasarkan konversi kurs pada 28 April 2026.
ADVERTISEMENT
Itu baru biaya perbaikan infrastruktur fisik saja tanpa menghitung kerugian operasional harian yang juga mencapai miliaran dolar setiap harinya.
Data yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan serangan balasan Iran menggunakan jet-jet tempur lawas berhasil mengejutkan dunia karena mampu menembus sistem pertahanan udara tercanggih milik AS yaitu MIM-104 Patriot.
Mengutip laporan dari NBC News pada Sabtu, 25 April 2026, dan analisis dari lembaga American Enterprise Institute (AEI), kerugian AS terbagi dalam beberapa pos utama yang sangat besar.
Serangan Teheran menargetkan lebih dari seratus titik di sebelas pangkalan militer AS yang tersebar di tujuh negara Timur Tengah.
Negara-negara yang menjadi sasaran meliputi Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Irak, dan Arab Saudi.
Hampir semua pangkalan strategis AS di kawasan Teluk terkena getah serangan bertubi-tubi dari pasukan Iran.
Kerusakan yang terjadi pun bersifat masif dengan hangar pesawat rata dengan tanah, landasan pacu berlubang-lubang, dan sistem radar canggih mati total.
Biaya perbaikan untuk semua infrastruktur yang rusak ini ditaksir mencapai lebih dari 4,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp70 triliun.
Selain infrastruktur, AS juga kehilangan aset-aset mahal yang tidak tergantikan akibat serangan balasan Teheran.
Laporan menunjukkan setidaknya tujuh unit pesawat jet tempur AS hancur dalam rentetan serangan tersebut.
Yang paling menyakitkan adalah hancurnya satu pesawat E-3 Sentry atau AWACS di Pangkalan Pangeran Sultan, Arab Saudi.
Pesawat intai udara ini sudah tidak diproduksi lagi sehingga jika AS ingin menggantinya dengan model baru, biayanya bisa mencapai lebih dari 700 juta dolar AS atau sekitar Rp11,9 triliun.
Selain AWACS, dua unit sistem radar AN/TPY-2 yang merupakan bagian dari sistem pertahanan THAAD juga rusak berat atau hancur total di Yordania dan Qatar.
Satu unit radar AN/TPY-2 saja harganya mencapai 485 juta dolar AS atau sekitar Rp8,2 triliun dengan waktu produksi hingga tiga tahun.
Artinya, pertahanan udara AS di kawasan itu akan berlubang dalam waktu yang sangat lama.
Satu jet tempur F-15 senilai 100 juta dolar AS atau Rp1,7 triliun juga dilaporkan hilang.
Yang lebih mengerikan adalah biaya operasional perang itu sendiri yang membebani AS hingga 2 miliar dolar AS per hari.
Dua miliar dolar per hari setara dengan Rp34 triliun setiap harinya untuk operasi penerbangan, konsumsi bahan bakar, peluru kendali, logistik, hingga evakuasi korban.
Jika perang berlangsung selama 40 hari, total kerugian operasional mencapai angka yang benar-benar gila yaitu 80 miliar dolar AS atau Rp1.360 triliun.
Angka ini adalah biaya operasional kumulatif, bukan kerusakan permanen seperti infrastruktur yang sudah dihitung sebelumnya.
Hampir semua kerusakan di atas dipicu oleh serangan awal dari pesawat-pesawat jadul Iran yang menjadi ujung tombak.
NBC News mengidentifikasi tiga jenis pesawat lawas yang menjadi biang kerok terbesar yaitu Northrop F-5, Grumman F-14 Tomcat, dan Sukhoi Su-24.
F-5-lah yang menjadi biang kerok terbesar karena digunakan Iran untuk menyerang Pangkalan Buehring di Kuwait.
Pangkalan Buehring adalah salah satu basis pertahanan udara dan operasi militer AS yang paling vital di Timur Tengah.
Pangkalan ini berfungsi sebagai pusat logistik utama untuk proyeksi kekuatan Amerika di seluruh kawasan.
Yang membuat malu, pangkalan strategis ini dilindungi oleh sistem MIM-104 Patriot yang sangat modern.
Sistem Patriot dirancang untuk menangkal pesawat tempur, rudal balistik, hingga rudal jelajah dengan tingkat akurasi tinggi.
Namun jet F-5 buatan tahun 1960-an itu berhasil menembus sistem Patriot dan menjatuhkan bom tepat di sasaran.
Analis militer dari American Enterprise Institute (AEI) memberikan tiga penjelasan mengapa pesawat setua itu bisa sukses.
Pertama, taktik terbang super rendah karena sistem Patriot didesain untuk menangkap target di ketinggian menengah hingga tinggi.
Kedua, serangan saturasi dengan mengirim gelombang drone dan rudal lebih dulu sehingga radar AS kewalahan menangani banyak target sekaligus.
Ketiga, celah sistem yang diekspos oleh serangan ini terutama terhadap ancaman udara ketinggian rendah yang selama ini diabaikan.
Setelah F-5 berhasil membobol pertahanan dan menciptakan kekacauan, Iran melancarkan gelombang rudal dan drone berikutnya yang menyebabkan kerusakan massal.
Ada ironi besar di balik suksesnya jet F-5 karena pesawat ini sebenarnya adalah buatan Amerika Serikat sendiri.
Jet F-5 dikirim ke Iran pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi secara bertahap antara tahun 1965 hingga 1976 dengan total lebih dari 300 unit.
Setelah revolusi tahun 1979, hubungan AS dan Iran putus total dan Iran mengalami embargo suplai suku cadang pesawat.
Namun Teheran tidak menyerah dengan menerapkan strategi kanibal, mengambil suku cadang dari pesawat rusak untuk digunakan di pesawat lain.
Kreativitas ini membuahkan hasil puluhan tahun kemudian ketika pesawat yang sama berbalik menyerang pangkalan pembuatnya sendiri.
Kerugian AS tidak hanya bersifat materiil karena ada nyawa yang melayang dan luka yang diderita personel.
Laporan yang dihimpun menyebutkan tiga belas personel militer AS tewas akibat serangan balasan Iran.
Hampir empat ratus personel lainnya mengalami luka-luka, sebagian dalam kondisi parah dan memerlukan perawatan intensif.
Biaya perawatan medis dan santunan untuk korban serta keluarga ini diperkirakan mencapai sekitar 500 juta dolar AS atau Rp8,5 triliun.
Jika semua pos kerugian dijumlahkan, total kerusakan fisik mencapai sekitar 5,9 miliar dolar AS atau lebih dari Rp100 triliun.
Di tengah pusingnya AS menghitung kerugian, kabar buruk lain datang dari Moskow yang secara tegas menempatkan diri di belakang Iran.
Delegasi Iran bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin di St. Petersburg pada Senin, 27 April 2026.
Disitat dari Tasnim News, Putin mengatakan bahwa Moskow akan melakukan segala sesuatu demi mendukung kepentingan Republik Islam.
Putin menyampaikan pernyataan itu setelah menerima pesan dari Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei.
"Dari pihak kami, kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Anda, kepentingan semua rakyat di kawasan ini, untuk mencapai perdamaian ini secepat mungkin," kata Putin seperti dilaporkan RIA Novosti.
Dukungan Putin ini menjadi pukulan telak bagi AS yang membuat prospek kemenangan militer semakin jauh.
Upaya diplomatik juga menemui jalan buntu setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusannya ke Islamabad, Pakistan.
Trump menilai perjalanan 18 jam itu tidak berguna untuk membahas hal yang tidak jelas.
"Saya bilang ke tim saya, 'Jangan. Kalian tidak akan melakukan perjalanan 18 jam hanya untuk duduk-duduk membicarakan hal yang tidak jelas.' Kami pegang semua kartu," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Utusan Rusia Mikhail Ulyanov ikut angkat suara mengecam pendekatan AS yang dinilai seperti pemerasan dengan ultimatum dan ancaman kekuatan militer.
"Amerika Serikat seharusnya meninggalkan pendekatan yang menyerupai pemerasan, tenggat waktu sepihak, dan ancaman penggunaan kekuatan militer," tegas Ulyanov.
Menurut Ulyanov, cara-cara seperti itu tidak akan pernah berhasil memaksa Iran tunduk karena Iran bukan pihak yang bisa dipaksa lewat ancaman.
Kerugian AS yang mencapai Rp85 triliun ini bukan hanya urusan Amerika karena Indonesia sebagai negara pengimpor minyak juga merasakan getarannya.
Konflik ini mengancam stabilitas Selat Hormuz dan Selat Malaka, dua jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Jika kedua selat ini terganggu, empat puluh persen perdagangan dunia yang melewati jalur tersebut akan tersendat.
Harga barang di Indonesia termasuk BBM berpotensi melonjak drastis dan inflasi pun tidak terhindarkan.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, melalui akun media sosial X menyatakan bahwa era kekuatan luar negeri mendikte keamanan dari kejauhan telah berakhir.
"Stabilitas di Selat Hormuz dan Malaka berada di bawah kendali kekuatan regional dan mitra strategisnya," kata Velayati.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah akankah Trump menarik diri dari perang yang semakin mahal ini atau justru menggandakan serangan untuk membalas dendam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok