Repelita Washington DC - Selama menggempur Iran, militer Amerika Serikat mengandalkan Rudal Serangan Presisi atau Precision Strike Missile (PrSM) sebagai andalan utama.
PrSM merupakan rudal balistik jarak pendek hingga menengah yang direncanakan untuk menggantikan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) yang sudah usang.
ADVERTISEMENT
Namun penggunaan PrSM dalam konflik dengan Iran tidak juga mampu melumpuhkan kekuatan militer Teheran secara signifikan.
PrSM bahkan tidak mampu menjangkau dan menghancurkan peluncur rudal jarak jauh milik Iran yang terus berpindah-pindah posisi.
Kondisi itu membuat Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) terpaksa mengajukan permintaan penggunaan rudal hipersonik Dark Eagle untuk menghancurkan Negeri Mullah tersebut.
Permintaan penggunaan rudal Dark Eagle sudah berulang kali diajukan oleh Komando Pusat AS, demikian dilaporkan Bloomberg pada Kamis (30/4/2026) mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Amunisi baru yang juga dikenal sebagai Senjata Hipersonik Jarak Jauh atau Long Range Hypersonic Weapon (LRHW) telah dikembangkan sejak tahun 2018.
Pentagon telah menginvestasikan lebih dari 12 miliar dolar AS untuk program rudal canggih yang menjadi kebanggaan Amerika Serikat.
Program rudal hipersonik ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan AS dari Rusia dan China yang telah lebih dulu memiliki persenjataan hipersonik operasional.
Namun sayangnya program ini telah jauh tertinggal dari jadwal yang ditentukan dan sistem tersebut belum dinyatakan sepenuhnya beroperasi hingga saat ini.
Permintaan pengerahan LRHW didasarkan pada intelijen yang menunjukkan bahwa Iran telah memindahkan peluncur rudal balistiknya keluar dari jangkauan PrSM.
Menurut sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut, belum ada keputusan resmi yang dibuat oleh pimpinan Pentagon maupun Gedung Putih terkait permintaan tersebut.
PrSM yang juga dikerahkan melawan Iran tanpa melalui prosedur pengujian yang semestinya ternyata digunakan secara luas selama konflik berlangsung.
Sebuah unit Angkatan Darat AS yang dilengkapi dengan amunisi baru tersebut bahkan telah menghabiskan seluruh persediaan PrSM-nya seperti yang diakui oleh seorang pejabat awal bulan ini.
Meskipun militer AS masih memiliki beberapa rudal PrSM dalam persediaan cadangan, jumlah tersebut mungkin tidak mencukupi jika konflik dengan Iran kembali berkobar di kemudian hari.
Pentagon telah memesan 130 unit PrSM sebelum tahun fiskal 2024 dan 250 unit lagi pada tahun 2025, tetapi masih belum jelas berapa banyak amunisi yang telah benar-benar dikirim ke lapangan.
Rudal PrSM menjadi sumber kontroversi besar selama serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran karena diduga terlibat dalam setidaknya satu insiden yang menimbulkan banyak korban jiwa sipil.
Menurut laporan New York Times, rudal PrSM kemungkinan digunakan dalam serangan 28 Februari 2026 terhadap sebuah sekolah dan aula olahraga di kota Lamerd, Iran selatan.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 21 orang yang sebagian besar adalah warga sipil tak berdosa termasuk anak-anak.
Pentagon membantah keterlibatannya dengan keras, bersikeras bahwa mereka tidak menargetkan situs mana pun di Lamerd pada hari itu.
Militer AS juga mengklaim bahwa amunisi yang terlihat dalam rekaman serangan tersebut adalah rudal jelajah Hoveyzeh buatan Iran, bukan milik Amerika.
Namun, New York Times kembali menegaskan penilaian awalnya awal bulan ini dengan mengutip para ahli yang mengatakan bahwa amunisi tersebut tampak seperti PrSM.
Para ahli menyebut bahwa puing-puing yang ditemukan tidak memiliki ciri-ciri proyektil buatan Iran sehingga memperkuat dugaan keterlibatan AS dalam insiden berdarah tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok