Repelita [Jakarta] - Mata uang rupiah kembali terjerembap hingga menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Penurunan nilai tukar ini dipicu oleh sentimen negatif yang datang dari dinamika ekonomi domestik maupun kondisi pasar global yang tidak menentu.
ADVERTISEMENT
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa kinerja neraca perdagangan Indonesia menjadi salah satu beban utama bagi rupiah.
Data terbaru menunjukkan adanya defisit neraca dagang pada bulan Mei 2026 yang cukup signifikan akibat tingginya permintaan impor energi.
"Neraca perdagangan di bulan Mei ini mengalami defisit US$1,61 miliar. Ini menandakan kebutuhan impor minyak mentah cukup besar sehingga terjadi defisit," ujar Ibrahim.
Merujuk pada catatan kurs referensi JISDOR, posisi rupiah sempat tersungkur hingga Rp18.090 per dolar AS setelah sebelumnya mencoba bertahan di bawah level tersebut.
Di sisi lain, pergerakan harga di pasar perbankan menunjukkan kondisi yang lebih menantang dengan kurs jual dolar AS yang tembus hingga Rp18.220.
Ibrahim memproyeksikan tren pelemahan rupiah ini masih akan terus membayangi pasar selama faktor-faktor pemberat belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
"Selama sentimen domestik dan global belum mereda, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut," pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok