Berita, Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.500, Menkeu Purbaya: Jangan Panik, Kita Tak Akan Sejelek 98

Repelita.id

13 May 2026 23:19 WIB

Rupiah Tembus Rp17.500, Menkeu Purbaya: Jangan Panik, Kita Tak Akan Sejelek 98
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menyentuh level Rp17.500, namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta seluruh lapisan masyarakat agar tidak panik menghadapi tekanan tersebut.

Menurut Purbaya, pemerintah bersama bank sentral terus memantau secara saksama perkembangan di pasar keuangan dan pasar obligasi demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

ADVERTISEMENT

“Enggak perlu panik, karena pondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu, 15 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda jauh dibandingkan dengan krisis moneter yang melanda pada tahun 1998 silam.

Pemerintah, kata dia, masih memiliki ruang gerak yang cukup untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi pasar sekaligus menjaga pergerakan nilai tukar rupiah.

“Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi. Kita akan cari langkah yang tepat,” tegasnya di hadapan awak media.

Pada perdagangan hari Selasa, rupiah ditutup di level Rp17.529 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh area Rp17.500-an yang menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah.

Namun sehari berselang, rupiah mulai menunjukkan tren penguatan dan berhasil ditutup di kisaran Rp17.476 per dolar AS.

Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh keluarnya dana asing dari pasar domestik serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang semakin memanas.

Selain itu, sentimen pasar juga turut dipengaruhi oleh hasil evaluasi terbaru dari MSCI terhadap pasar saham Indonesia.

Dalam evaluasi MSCI Global Standard Indexes tersebut, tidak ada satu pun saham Indonesia yang masuk ke dalam indeks baru, sementara enam emiten justru dikeluarkan dari daftar.

Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai hasil evaluasi tersebut masih cukup positif karena Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market.

“Dengan tetap berada di kategori emerging market, MSCI memberi sinyal bahwa pasar modal Indonesia masih layak investasi bagi investor global,” ujar Noval.

Menurut dia, posisi tersebut sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor asing di tengah tekanan pasar keuangan global yang tengah bergejolak.

Purbaya juga menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi kewenangan penuh bank sentral, namun pemerintah akan ikut menjaga kondisi pasar, khususnya pasar obligasi negara.

“Kita nggak masuk ke pasar bond langsung. Tapi kita jaga stabilitas bond market,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah telah meminta jajaran terkait, termasuk Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, untuk menyiapkan langkah-langkah stabilisasi pasar.

“Ada langkah-langkah. Saya sedang perintahkan mereka untuk masuk, untuk keluarkan tindakan,” ungkapnya.

Menurut Purbaya, kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan perbaikan dan investor asing perlahan-lahan kembali masuk ke pasar domestik.

Meskipun demikian, pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan pasar dalam beberapa bulan ke depan untuk mengantisipasi potensi gejolak lebih lanjut.

Selain menyinggung kondisi rupiah, Purbaya juga merespons surat dari Kamar Dagang China yang menyoroti hambatan investasi di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengganggu para investor selama kegiatan usaha mereka dijalankan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Kita nggak akan ganggu bisnis siapa pun di sini, asal mereka lakukan dengan legal. Kalau ilegal kita tindak,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung