Berita, Timur Tengah

Rusia Hentikan Pasokan Minyak Kazakhstan ke Jerman Lewat Pipa Druzhba Mulai 1 Mei

Repelita.id

23 April 2026 16:06 WIB

Rusia Hentikan Pasokan Minyak Kazakhstan ke Jerman Lewat Pipa Druzhba Mulai 1 Mei
Foto: Istimewa

Repelita Moskow - Rusia secara resmi mengumumkan akan menghentikan pasokan minyak Kazakhstan ke Jerman melalui jaringan pipa Druzhba mulai 1 Mei 2026.

Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, di tengah dinamika energi yang kian kompleks di kawasan Eropa.

ADVERTISEMENT

Keputusan tersebut akan berdampak langsung pada aliran minyak yang selama ini menjadi salah satu sumber penting bagi industri energi Jerman.

Novak menyatakan bahwa volume minyak Kazakhstan yang sebelumnya dikirim melalui pipa Druzhba akan dialihkan ke jalur logistik lain yang dinilai lebih memungkinkan secara teknis.

"Mulai 1 Mei, volume pasokan minyak Kazakhstan yang sebelumnya dikirim ke Jerman melalui pipa Druzhba akan dialihkan ke jalur logistik lain yang bebas hambatan," ujar Novak sebagaimana diberitakan Xinhua dan RTVI.

Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada keterbatasan kemampuan teknologi yang ada saat ini pada infrastruktur pipa tua.

Menurut Novak, pembahasan terkait perubahan jalur distribusi ini telah dilakukan bersama pihak Kazakhstan dalam beberapa waktu terakhir melalui jalur diplomatik.

Negosiasi antara kedua negara disebut berlangsung pada pekan sebelumnya yang mencerminkan adanya koordinasi erat dalam menghadapi perubahan kondisi infrastruktur.

Dalam pernyataan yang bernuansa politis dan sedikit menyindir, Novak juga menyinggung sikap Jerman yang telah menolak minyak Rusia sejak konflik Ukraina pecah.

"Jerman telah menolak minyak Rusia, yang berarti semuanya baik-baik saja bagi mereka," katanya dengan nada yang mengindikasikan bahwa Rusia tidak merasa perlu mempertimbangkan kepentingan Jerman.

Sementara itu, Menteri Energi Kazakhstan, Yerlan Akkenzhenov, sebelumnya telah mengonfirmasi adanya penangguhan transit minyak melalui Rusia menuju Jerman.

Ia menyebut negaranya telah menerima informasi tidak resmi mengenai kemungkinan penghentian aliran minyak melalui pipa Druzhba pada bulan Mei mendatang.

Meskipun demikian, Kazakhstan menegaskan tidak akan mengurangi produksi minyaknya dan volume ekspor akan dialihkan ke jalur lain yang tersedia.

Akkenzhenov juga mengindikasikan bahwa penghentian transit dapat berkaitan dengan kerusakan infrastruktur pipa akibat serangan yang terjadi sebelumnya di wilayah Ukraina.

Pipa Druzhba sendiri merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak di Eropa yang menghubungkan Rusia dengan sejumlah negara di kawasan Eropa Timur dan Tengah.

Selama ini, minyak dari Kazakhstan yang dialirkan melalui Druzhba menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan kilang minyak di Schwedt, Jerman.

Kilang Schwedt tersebut menjadi salah satu pusat pengolahan penting bagi pasokan energi di wilayah timur Jerman yang selama ini sangat bergantung pada aliran pipa ini.

Pada sepanjang tahun 2025, Kazakhstan tercatat berhasil mengirimkan sekitar 2,1 juta ton minyak mentah ke Jerman melalui jalur pipa tersebut.

Untuk tahun 2026, volume pengiriman bahkan direncanakan akan meningkat drastis hingga sekitar 3 juta ton sesuai kesepakatan kedua negara.

Namun perubahan jalur distribusi yang dipaksakan oleh Rusia ini berpotensi mengganggu rencana peningkatan volume tersebut secara signifikan.

Kondisi ini sekaligus menambah ketidakpastian baru dalam pasokan energi Eropa yang sedang berusaha lepas dari ketergantungan pada Rusia.

Di sisi lain, perkembangan terkait pipa Druzhba juga terjadi di wilayah Ukraina yang menjadi jalur transit penting bagi minyak Rusia ke Eropa.

Perusahaan operator pipa Ukrtransnafta melaporkan telah menyelesaikan perbaikan pada bagian pipa yang sebelumnya rusak akibat serangan militer.

Perbaikan ini memungkinkan dimulainya kembali aliran minyak ke Hungaria dan Slovakia setelah terhenti hampir tiga bulan lamanya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya menyatakan bahwa pemulihan infrastruktur pipa tersebut telah berhasil rampung sesuai target.

Ia juga berharap langkah pemulihan infrastruktur ini dapat membuka jalan bagi dukungan finansial baru dari Uni Eropa untuk Ukraina.

Dalam perkembangan politik terkait, pemerintah Hungaria di bawah Perdana Menteri Viktor Orbán dilaporkan mencabut veto terhadap paket bantuan untuk Ukraina.

Paket bantuan tersebut bernilai sekitar 90 miliar euro yang sebelumnya sempat tertahan dalam proses negosiasi panjang selama berbulan-bulan.

Para duta besar negara-negara Uni Eropa disebut telah memberikan persetujuan awal terhadap inisiatif bantuan besar-besaran tersebut.

Persetujuan ini juga dibahas bersamaan dengan rencana penerapan putaran sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia yang semakin memperketat isolasi.

Kedua keputusan strategis tersebut diperkirakan akan difinalisasi dalam waktu dekat melalui mekanisme voting di tingkat menteri.

Perubahan jalur pasokan minyak yang dipaksakan oleh Rusia ini menegaskan bahwa sektor energi Eropa masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang berubah cepat.

Kondisi ini menempatkan negara-negara Eropa termasuk Jerman pada posisi yang harus terus menyesuaikan strategi energi mereka secara adaptif.

Sebelum pecahnya perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022, Jerman merupakan salah satu negara Eropa yang sangat bergantung pada energi Rusia.

Ketergantungan ini terbentuk melalui jaringan pasokan jangka panjang terutama melalui pipa Druzhba yang mengalirkan minyak langsung ke kilang-kilang di timur Jerman.

Pada tahun 2021, sekitar sepertiga atau kurang lebih 30 hingga 35 persen impor minyak mentah Jerman berasal dari Rusia sebagai pemasok utama.

Selain minyak, Rusia juga menyuplai lebih dari separuh kebutuhan gas alam Jerman serta sebagian besar batu bara untuk pembangkit listrik.

Salah satu titik krusial dari ketergantungan tersebut adalah kilang minyak Schwedt yang sebelumnya hampir sepenuhnya bergantung pada minyak Rusia.

Setiap gangguan pada jalur pipa Druzhba berpotensi langsung memengaruhi stabilitas pasokan energi regional di Jerman bagian timur.

Namun setelah invasi Rusia ke Ukraina, Jerman bersama Uni Eropa mengambil langkah drastis dengan mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia.

Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, impor minyak mentah langsung dari Rusia ke Jerman hampir sepenuhnya dihentikan total.

Penurunan drastis ini terjadi bersamaan dengan kebijakan sanksi dan program diversifikasi energi besar-besaran yang dicanangkan pemerintah Jerman.

Secara keseluruhan, nilai impor Jerman dari Rusia tidak hanya energi turun sangat tajam sejak 2022 mencerminkan pergeseran strategis hubungan bilateral.

Sebagai pengganti, Jerman meningkatkan pasokan energi dari sumber alternatif seperti Norwegia, Amerika Serikat, dan Kazakhstan.

Jerman juga mulai memanfaatkan jalur distribusi melalui pelabuhan laut dan jaringan pipa non-Rusia yang sebelumnya jarang digunakan.

Meski demikian transisi ini tidak berjalan tanpa tantangan karena pada tahap awal Jerman menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan.

Lonjakan harga energi, penyesuaian infrastruktur, serta kebutuhan mendesak mengamankan pasokan jangka pendek menjadi momok tersendiri bagi pemerintah.

Dalam perkembangannya, kondisi pasokan energi Jerman relatif lebih stabil dibandingkan awal krisis meskipun ketergantungan terhadap impor tetap tinggi.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Jerman berhasil mengurangi ketergantungan langsung pada Rusia, sistem energi nasionalnya masih rentan terhadap gangguan eksternal.

Perkembangan terbaru terkait potensi gangguan pada jalur pipa Druzhba semakin menegaskan bahwa isu energi di Eropa tidak hanya bersifat ekonomi.

Isu energi saat ini juga sangat dipengaruhi oleh faktor politik dan keamanan regional yang sulit diprediksi dan cepat berubah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung