Berita, Nasional

Ryaas Rasyid: Prabowo Haram Marah di Depan Umum, Tak Belajar dari Soeharto

Repelita.id

21 September 2026 15:20 WIB

Ryaas Rasyid: Prabowo Haram Marah di Depan Umum, Tak Belajar dari Soeharto
Foto: Istimewa

Berikut versi yang seluruh kutipan bahasa Inggrisnya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, tanpa mengubah isi lainnya.

Repelita Jakarta - Profesor Ryaas Rasyid menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut para pakar terlalu pintar hingga menjadi bodoh sebagai cerminan sikap yang bermasalah.

ADVERTISEMENT

Pernyataan itu disampaikan Profesor Ryaas Rasyid dalam diskusi di kanal YouTube Forum Keadilan TV bersama host Darmawan Sepriyossa.

Menurut mantan Menteri Negara Otonomi Daerah itu, marah dan mengumpat di muka umum merupakan perbuatan yang haram bagi seorang pemimpin.

Ia menegaskan, “Marah di depan umum sebenarnya haram bagi seorang pemimpin. Mengumpat adalah sesuatu yang tercela.”

Sikap semacam itu dinilai mencerminkan kualitas kepemimpinan yang rendah dan tidak pantas ditunjukkan di hadapan publik.

Profesor Ryaas Rasyid mengingatkan bahwa Presiden Prabowo tidak belajar dari mertuanya, Presiden kedua Soeharto.

Ia menyatakan, “Selama memimpin pemerintahan, Pak Harto tidak pernah marah di depan umum, apalagi memaki orang di depan umum.”

Soeharto dikenal menahan diri dan tidak pernah memaki orang di depan umum sepanjang masa kepemimpinannya.

Latar belakang Prabowo yang murni militer tanpa pengalaman mengelola pemerintahan sipil menjadi salah satu penyebab utama kelemahan tersebut.

Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah menyentuh urusan pemerintahan secara mendalam dan lebih mengandalkan gaya komando.

Akibatnya, kemampuan merespons perbedaan pendapat serta mengelola kepentingan rakyat dinilai kurang terasah.

Profesor Ryaas Rasyid menekankan bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini sangat kompleks.

Inflasi, kondisi devisa negara, dan perekonomian yang belum stabil menjadi beban berat yang harus diselesaikan.

Swasembada pangan masih jauh dari tercapai sementara situasi nasional digambarkan berada di tepi jurang.

Dalam kondisi seperti itu, pola kepemimpinan yang ada dinilai tidak mampu menemukan solusi yang tepat.

Ia menyatakan dengan tegas, “Bahkan jika semua orang terpintar di dunia didatangkan ke Indonesia, orang-orang terpintar di dunia datang ke Indonesia untuk mengelola Indonesia saat ini, persoalan ini tidak akan selesai dengan pola yang sekarang. Masalahnya adalah ketidakmampuannya. Tidak ada solusi. Tidak ada solusi yang mungkin. Mustahil. Ini masalah kepribadian. Tidak mau belajar.”

Ketidakmauan untuk belajar menjadi akar persoalan yang sulit diatasi.

Bahkan jika dua puluh orang terpintar di dunia didatangkan untuk membantu, hasilnya tetap sia-sia selama pola yang ada tidak berubah.

Profesor Ryaas Rasyid juga menilai tidak ada sosok di sekitar Presiden yang mampu memberikan nasihat efektif.

Ketika ditanya siapa yang bisa menasihati Prabowo, ia menjawab singkat bahwa ia tidak melihat siapa pun.

Satu-satunya jalan yang mungkin terbuka adalah jika yang bersangkutan terlebih dahulu membuka diri kepada Tuhan.

Ia menegaskan, “Manusia harus terlebih dahulu membuka diri kepada Allah, kepada Tuhannya.”

Tanpa kesadaran spiritual dan kerendahan hati untuk menerima masukan, perbaikan kepemimpinan dinilai sulit terjadi.

Situasi ini menuntut kesabaran dari seluruh bangsa karena Indonesia sedang menghadapi tantangan yang sangat berat.

Kepemimpinan menjadi inti dari seluruh persoalan yang sedang berlangsung saat ini.

Jika pola yang ada terus berlanjut tanpa perubahan mendasar, risiko jatuh ke dalam jurang semakin nyata.

Profesor Ryaas Rasyid mengajak semua pihak untuk tidak meremehkan kondisi yang ada dan tetap waspada terhadap perkembangan ke depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung