Berita, Nasional

Saat Oposisi Puji Pakar, Setelah Jadi Presiden Malah Merendahkannya, Tere Liye: Prabowo Ini Ada Masalah Apa Sih?

Repelita.id

19 September 2026 23:55 WIB

Saat Oposisi Puji Pakar, Setelah Jadi Presiden Malah Merendahkannya, Tere Liye: Prabowo Ini Ada Masalah Apa Sih?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dinamika komunikasi politik nasional kembali memicu perdebatan publik menyusul perbedaan retorika yang ditunjukkan oleh pemegang kekuasaan tertinggi negara.

Perubahan gaya kepemimpinan tersebut mendadak menjadi sorotan hangat di linimasa digital setelah diulas secara tajam oleh novelis kenamaan tanah air Tere Liye.

ADVERTISEMENT

Melalui unggahan status berantai yang disebarluaskan pada hari Sabtu, 19 September 2026, sang novelis menyoroti kontrasnya perlakuan terhadap para akademisi dan pakar.

Sentilan menohok yang dilayangkan oleh Tere Liye dituangkan secara persis melalui kalimat, Dulu memuji ahli-ahli, pakar-pakar. Hari ini menghina ahli-ahli, pakar-pakar. Seriusan. Prabowo ini ada masalah apa sih?

Perbedaan sikap itu merujuk pada rekam jejak pidato politik yang disampaikan pada masa lalu ketika figur tersebut masih berada di luar lingkaran kekuasaan pemerintahan.

Tepatnya pada tanggal 1 September 2018 di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, pandangan ekonomi serta riset para pakar independen kerap dijadikan landasan utama kritik.

Namun, situasi berubah drastis delapan tahun berselang ketika yang bersangkutan melontarkan sindiran keras dalam acara perayaan hari ulang tahun Partai Amanat Nasional.

Pernyataan kontroversial yang memicu reaksi keras publik dan lekas menjadi viral di berbagai platform digital tersebut terekam melalui kutipan ucapan kepala negara.

Pernyataan tajam yang dilontarkan di hadapan kader partai itu berbunyi, Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.

Gaya bahasa yang dinilai kurang elok tersebut langsung memantik kekecewaan mendalam dari kalangan pendidik serta pengajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi daerah.

Salah satu kritik terbuka disampaikan oleh dosen Universitas Mataram Ahmad Junaidi melalui akun media sosial pribadinya pada hari Sabtu, 19 September 2026.

Pendidik asal Nusa Tenggara Barat tersebut melontarkan kekecewaannya secara terbuka dengan menyatakan, Kami di sekolah berusaha mengajarkan komunikasi yang baik. Sayangnya bapak jadi contoh yang kurang baik bagi jutaan siswa Indonesia.

Ahmad Junaidi menilai pemilihan kosakata kasar di ruang publik oleh seorang pemimpin tertinggi negara sangat mencederai etika keteladanan moral generasi muda bangsa.

Kritik tajam terhadap kegagalan peran keteladanan komunikasi tersebut dipertegas oleh Ahmad Junaidi lewat pernyataan berbunyi, Bapak gagal menjadi teladan bagaimana menghargai masyarakat yang berusaha memperbaiki negaranya. Gagal menjadi teladan komunikasi bagi jutaan siswa Indonesia (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung