Repelita Jakarta - Perbincangan hangat mengenai latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus bergulir dan membandingkannya dengan figur publik lain seperti Susi Pudjiastuti.
Perdebatan tersebut ramai di ruang digital bertepatan dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pembatalan kedudukan wakil presiden terpilih.
ADVERTISEMENT
Sejumlah kalangan sempat menyuarakan agar Gibran menempuh jalur pendidikan kesetaraan paket C guna melengkapi persyaratan administratif yang disorot.
Menanggapi wacana tersebut, tokoh intelektual Ainun Najib memberikan pandangan kritis melalui akun media sosial pribadinya pada hari Rabu, 7 Oktober 2026.
Ia menilai bahwa membandingkan proses pendidikan formal tersebut kurang tepat karena latar belakang jenjang studi masing-masing tokoh memiliki perbedaan jalur.
“Ibu Susi kan sebelumnya pendidikan formalnya berhenti di SMP. Kalau Gibran kan lanjut sampai S1,” kata Ainun Najib dalam unggahannya.
Tokoh yang menempuh studi di luar negeri itu berpendapat bahwa logika penyetaraan yang merembet ke ranah diaspora justru berpotensi menimbulkan kekeliruan berpikir yang merugikan banyak pihak.
“Masak musti ngulang Paket C. Kacau juga ini, merugikan semua diaspora jadinya,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut kemudian memancing tanggapan tajam dari mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Muhammad Said Didu.
Melalui platform media sosial X, Said Didu melontarkan kritik keras terhadap argumen yang berupaya membela situasi tersebut.
“Kalau membela, gak usah merembet ke mana-mana,” balas Didu secara terbuka.
Menurut pandangannya, persoalan mendasar yang tengah diperdebatkan publik bukan sekadar keabsahan selembar ijazah semata, melainkan integritas kejujuran dari lingkaran kekuasaan keluarga mantan presiden.
“Yang dipersoalkan adalah sifat pembohongnya keluarga Jokowi,” tegasnya.
Ia lantas membandingkan dengan sikap terbuka yang pernah ditunjukkan oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tanpa ada upaya menutup-nutupi.
“Bu Susi tidak pernah bohong dan mengakui kok,” pungkas Said Didu. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok