Berita, Timur Tengah

Sakit Hati Iran Sangat Dalam, Tawaran Negosiasi Indonesia Ditolak

Repelita.id

28 March 2026 07:03 WIB

Sakit Hati Iran Sangat Dalam, Tawaran Negosiasi Indonesia Ditolak
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Langit diplomasi tidak selalu berwarna biru, dan di antara jalur pelayaran paling sibuk di dunia, ketegangan justru mengental seperti minyak yang tumpah di permukaan laut, dengan sakit hati Iran yang begitu dalam terhadap Indonesia menjadi latar utama penahanan kapal tanker milik Pertamina.

Rusdi Siswanto membuka lapisan demi lapisan di balik keputusan Teheran, mengungkap bahwa akumulasi kekecewaan Iran terhadap Indonesia telah mengendap sejak beberapa tahun terakhir dan memuncak hingga menyebabkan tawaran negosiasi yang diajukan oleh Indonesia ditolak mentah-mentah.

ADVERTISEMENT

Puncak dari akumulasi sakit hati ini terjadi ketika Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menolak tawaran mediasi yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto, sebuah sikap yang bukan sekadar penolakan diplomatik biasa.

Penolakan itu menjadi sinyal yang sangat jelas bahwa Iran memilih garisnya sendiri dan tidak lagi bersedia membuka ruang negosiasi dengan Indonesia yang dianggap telah menyakiti perasaannya melalui serangkaian peristiwa di masa lalu.

Selat Hormuz yang menjadi urat nadi energi global disebut hanya terbuka bagi negara-negara yang dianggap sahabat dan netral, sementara kapal-kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya termasuk Indonesia ditutup aksesnya.

Dampak dari kebijakan ini terasa nyata karena lalu lintas laut yang biasanya riuh menjadi selektif, dengan hanya segelintir negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, Irak, Thailand, dan Sri Lanka yang diberi ruang melintas.

Sementara itu, kapal tanker milik Pertamina yang menjadi simbol kepentingan energi Indonesia harus tertahan dalam ketidakpastian di tengah jalur pelayaran yang semakin sulit diakses akibat sakit hati Iran yang mendalam.

Rusdi mengurai akar persoalan ini hingga ke tahun 2023, ketika kapal tanker raksasa MT Arman 114 dengan bobot lebih dari 300.000 ton ditangkap di Batam karena dituduh melakukan transfer ilegal dan mencemari laut.

Pengadilan kemudian memutuskan penyitaan kapal tersebut dan bahkan melelangnya dengan nilai fantastis, sebuah langkah yang bagi Teheran bukan sekadar penegakan hukum tetapi juga bentuk penghinaan yang sangat mendalam terhadap Iran.

Mereka mengaku terbiasa menangkap kapal di wilayahnya sendiri, namun tidak pernah melakukan tindakan melelang kapal milik negara lain seperti yang dilakukan Indonesia dalam kasus tersebut, sehingga luka itu terasa sangat perih.

Luka diplomatik itu belum sembuh ketika pada Februari 2025, dua kapal perang Iran dilaporkan ditolak dalam latihan multilateral Komodo di Bali meskipun telah mengantongi izin untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Keputusan tersebut disebut-sebut dipengaruhi oleh tekanan dari Amerika Serikat, sebuah tudingan yang menempatkan Indonesia dalam posisi serba salah namun tetap menyisakan rasa sakit yang mendalam di hati Iran.

Seorang pejabat Iran seperti dikutip Rusdi menyebut bahwa Indonesia terlihat terlalu berhati-hati terhadap Washington, sebuah kalimat sederhana yang menyimpan makna panjang tentang kepercayaan yang mulai goyah dan sakit hati yang semakin dalam.

Kini ketika konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, Selat Hormuz berubah menjadi titik tekan geopolitik di mana setiap kapal yang melintas membawa bukan hanya muatan energi tetapi juga beban diplomasi yang berat akibat akumulasi sakit hati yang tidak kunjung sembuh.

Penahanan tanker milik Pertamina menjadi bukti nyata bahwa tawaran negosiasi dari Indonesia yang disampaikan melalui berbagai saluran diplomatik telah ditolak oleh Iran yang memilih untuk menuntaskan sakit hatinya dengan cara yang sangat tegas.

Di tengah pusaran ketegangan ini, Presiden Prabowo Subianto tetap menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif, dengan pernyataan bahwa Indonesia tidak akan berpihak pada kekuatan mana pun.

Namun di laut lepas, realitas sering kali lebih keras dari prinsip yang dianut, karena sakit hati yang sangat dalam dari Iran telah membuat tawaran negosiasi Indonesia tidak lagi mendapat tempat di meja perundingan Teheran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung