Repelita Jakarta - Riuh tudingan penistaan agama terhadap Jusuf Kalla perlahan berbalik arah setelah para saksi hidup konflik Maluku dan Poso angkat bicara.
Dari ruang pertemuan yang dipenuhi ingatan pahit akan tragedi kemanusiaan, Selasa (21/4/2026), mereka justru berdiri bukan untuk menyerang melainkan untuk meluruskan fakta.
ADVERTISEMENT
Nama Pendeta John Ruhulessin membuka suara dengan tegas bahwa ia tidak bicara teori apalagi doktrin keagamaan yang rumit.
Yang ia sampaikan adalah pengalaman langsung ketika bara konflik horizontal di Maluku menyala dan membakar sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Menurut pengakuannya, apa yang disampaikan oleh JK bukanlah ajaran agama melainkan potret sosial yang pernah terjadi di lapangan.
Yaitu tentang bagaimana agama pernah diseret secara sengaja menjadi legitimasi kekerasan antarwarga yang sebenarnya bertetangga.
"Beliau tidak pernah membicarakan doktrin," tegas Pendeta John Ruhulessin mengklarifikasi isi pernyataan Jusuf Kalla yang dipotong-potong.
Ia bahkan mengakui bahwa pada masa konflik, banyak pihak termasuk dirinya sendiri terjebak dalam arus kekerasan yang dibungkus dengan keyakinan agama.
Namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak korban berjatuhan, kesadaran mulai muncul di antara mereka.
Apa yang dilakukan selama masa konflik justru bertentangan dengan nilai-nilai agama yang sebenarnya mengajarkan kedamaian dan kasih sayang.
Nada serupa datang dari Pendeta Damanik yang menyebut pernyataan JK sebagai analisis sosiologis bukan ceramah teologis yang mengajarkan doktrin.
Ia mengakui bahwa pada masa konflik Poso yang berkepanjangan, keyakinan tentang mati syahid kerap disalahartikan oleh banyak pihak.
Keyakinan tersebut kemudian dijadikan sebagai pembenaran untuk bertempur melawan sesama anak bangsa demi kepentingan kelompok.
"Saya sendiri waktu itu merasa pasti masuk surga," ungkap Damanik dengan jujur tanpa tedeng aling-aling di hadapan peserta pertemuan.
Sebuah pengakuan yang menggambarkan betapa dalamnya distorsi pemahaman keagamaan yang terjadi saat konflik memuncak dan sulit dikendalikan.
Namun titik balik yang besar datang ketika Jusuf Kalla saat itu menawarkan dua pilihan sederhana namun sangat mendasar kepada masyarakat yang bertikai.
Lanjutkan konflik yang tidak jelas ujungnya atau tempuh jalan damai yang akan difasilitasi penuh oleh negara melalui berbagai program.
Dari sana kesadaran kolektif mulai tumbuh secara perlahan di tengah masyarakat yang sudah lelah dengan pertumpahan darah berkepanjangan.
Konflik berhasil diredakan secara bertahap, ego sektoral mulai runtuh satu per satu, dan masyarakat mulai membangun ulang kehidupan yang lebih waras.
Dari kubu Muslim, Ustaz Sugianto Kaimudin mempertegas bahwa apa yang disampaikan oleh JK adalah fakta lapangan yang ia alami sendiri.
Ia menggambarkan suasana kala itu di mana teriakan keagamaan bersahutan dari dua sisi yang saling berhadapan dengan senjata tajam.
Namun sesungguhnya semua itu dipicu oleh amarah, dendam masa lalu, dan ambisi politik yang dibungkus dengan simbol-simbol agama.
Kini menurut Ustaz Sugianto, wilayah Poso telah memilih jalan berbeda yang jauh dari konflik dan kekerasan antaragama.
Bersama tokoh lintas agama seperti Pendeta Ratna Lagonda dan sejumlah ulama terkemuka, mereka membentuk kesepakatan bersama untuk menjaga perdamaian.
Mereka secara tegas menolak segala upaya untuk mempolitisasi pernyataan JK yang sudah diklarifikasi oleh banyak saksi hidup ini.
Mereka juga menilai bahwa tuduhan penistaan agama yang dialamatkan kepada JK lahir dari ketidaktahuan pihak tertentu atas sejarah konflik yang sebenarnya.
Dalam forum pertemuan tersebut, satu benang merah yang menguat di antara semua pembicara adalah tidak ada yang menang dalam konflik saudara.
Semua pihak kalah, semua pihak terluka, dan semua pihak kehilangan harta benda serta anggota keluarga yang dicintai.
Sementara itu JK sendiri memilih untuk tidak memperpanjang polemik yang sudah menghabiskan energi publik beberapa pekan terakhir.
Ia menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada masyarakat dan mendorong publik untuk tidak mudah terpecah oleh potongan narasi yang dipelintir.
Upaya pelacakan terhadap penyebar potongan video yang memicu polemik juga disebut tengah dilakukan oleh aparat penegak hukum.
Dari Poso hingga Ambon, suara-suara klarifikasi ini bukan sekadar bantahan biasa melainkan sebuah pengingat bagi seluruh bangsa.
Bahwa perdamaian tidak lahir dari teriakan dan saling tuduh di media sosial tetapi dari keberanian mengakui masa lalu yang kelam.
Serta keberanian untuk menolak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan demi generasi yang lebih baik dan damai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok