Berita, Internasional

Sebuah kapal Aktivis Freedom Flotilla Berlayar dari Inggris Siap Tembus Blokade Israel di Gaza

Repelita.id

18 August 2026 15:13 WIB

Sebuah kapal Aktivis Freedom Flotilla Berlayar dari Inggris Siap Tembus Blokade Israel di Gaza
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Satu unit kapal telah bertolak dari kawasan selatan Inggris sebagai bagian dari gelombang gerakan armada laut guna menembus jalur blokade Israel di wilayah Gaza.

Rombongan sukarelawan dan warga berkumpul di Hannover Quay, Bristol, pada Minggu, 16 Agustus 2026, untuk melepas pelayaran kapal Kate yang membawa deretan aktivis Freedom Flotilla.

ADVERTISEMENT

Pelepasan 12 relawan tersebut dihadiri pendiri Medical Aid for Palestinians Swee Ang, perawat asal Wales Leigh Evans, serta mantan akademisi Universitas Bristol David Miller.

Kapten pelayar asal Irlandia Fiacc O Brolchain menuturkan pengalaman penahanannya oleh militer Israel dalam misi terdahulu, di mana perangkat bantu dengarnya diambil sewaktu proses pemeriksaan.

Ia mengaku terus-menerus mengatakan kepada tentara Israel, “Saya tidak bisa mendengar Anda; Anda mengambil alat bantu dengar saya.”

Sejak periode 2010, pihak militer Israel senantiasa menghadang atau menyergap setiap iringan armada kapal yang berupaya menerobos blokade Gaza, termasuk saat berada di area perairan internasional.

Pengacara internasional Frank Romano membeberkan bahwa sejak Oktober 2023, pasukan militer telah menghentikan serta mengamankan lebih dari 75 armada kapal solidaritas.

Upaya hukum terus ditempuh untuk merebut kembali deretan kapal yang disita, namun sejauh ini baru dua unit armada yang berhasil didapatkan kembali.

Inisiatif Global Sumud Flotilla yang menghabiskan dana hingga 24 juta Dolar AS telah mengerahkan puluhan kapal dalam berbagai tahapan misi sejak tahun lalu.

Aktivis Swedia Greta Thunberg yang terlibat dalam gerakan tersebut sempat diamankan saat kapal Alma dicegat pada Oktober, serta mengungkap adanya perlakuan keras fisik maupun psikologis selama penahanan.

Aktivis Irlandia Colm Byrne menceritakan bahwa perahu yang ditumpanginya dihadang pada jarak lebih dari 1.000 kilometer dari Gaza pada April lalu.

Ia mengungkapkan para relawan mendapat tindakan kekerasan fisik, dipukuli, serta dipaksa berada pada posisi tubuh yang menyakitkan hingga membuat bahunya cedera.

Para peserta aksi dipaksa berlutut selama empat jam dalam kondisi tangan terikat sebelum dijebloskan ke ruang tahanan.

Meski menerima perlakuan buruk, Byrne menegaskan bahwa tekanan yang dialaminya belum sebanding dengan penderitaan para tahanan Palestina di dalam penjara Israel. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung