Repelita Jakarta - Keputusan perombakan kabinet yang menyasar posisi strategis di bidang fiskal memicu perbincangan hangat mengenai arah kebijakan efisiensi yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.
Langkah politis tersebut dibahas secara mendalam oleh pengamat militer dan intelijen, Selamat Ginting, melalui monolog terbaru yang disiarkan lewat kanal YouTube Selamat Ginting Official.
ADVERTISEMENT
Dalam analisisnya, pergantian posisi Purbaya Yudhi Sadewa oleh wakilnya sendiri yaitu Suahasil Nazara pada tanggal 14 September kemarin dianggap memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Kebijakan rotasi kilat ini dinilai cukup mengejutkan mengingat mantan menteri tersebut tercatat baru mengemban amanah mengelola keuangan negara selama kurang lebih satu tahun.
Sebab itu, Selamat Ginting mempertanyakan esensi dari perombakan struktur pemerintahan yang saat ini terkesan sangat gemuk karena diisi oleh ratusan pejabat.
"Apakah ini benar-benar reshuffle atau sekedar pergantian kursi saja," ujar Selamat Ginting saat mempertanyakan efektivitas perombakan kabinet dalam tayangan monolognya tersebut.
Ia menambahkan bahwa susunan Kabinet Merah Putih sejak awal dinilai tidak ideal karena memiliki komposisi raksasa yang terdiri dari 48 menteri serta 56 wakil menteri.
Kondisi organisasi yang terfragmentasi ini dianggap kontradiktif dengan pidato presiden mengenai penghematan anggaran negara yang berpotensi memotong dana pengadaan hingga puluhan triliun rupiah.
Pengamat tersebut menilai struktur pemerintahan presidensial di Indonesia cenderung terjebak dalam dilema akomodasi politik demi menjaga kestabilan koalisi multipartai yang sangat luas.
Dampaknya, proses bongkar pasang posisi pembantu presiden rawan dicurigai sebagai ajang transaksi politik pelipur lara kelompok elit ketimbang upaya mendongkrak kinerja birokrasi.
Publik secara meluas juga menyoroti parameter evaluasi yang dinilai tidak transparan, terutama ketika melihat menteri yang terseret lingkaran kasus hukum justru tetap aman di posisinya.
Kritik tajam diarahkan pada keberadaan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang terseret polemik dugaan gratifikasi eks Bupati Kuantan Singingi, serta Menteri ATR BPN Nusron Wahid yang lingkaran dekatnya ditangkap KPK terkait suap HGB.
Selamat Ginting mengingatkan adanya bahaya psikologis di masyarakat apabila proses perombakan besar-besaran ini hanya menyentuh permukaan tanpa membenahi akar penyakit dalam birokrasi.
Perubahan personil yang terlampau sering tanpa adanya pembenahan sistemik dikhawatirkan hanya akan diacuhkan oleh masyarakat sebagai sebuah ritual seremonial belaka. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok