Berita, Internasional

Senat AS Kembali Blokir Resolusi Batasi Kekuasaan Perang Trump di Iran, Demokrat Ancaman Voting Setiap Pekan

Repelita.id

17 April 2026 12:25 WIB

Senat AS Kembali Blokir Resolusi Batasi Kekuasaan Perang Trump di Iran, Demokrat Ancaman Voting Setiap Pekan
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Senat Amerika Serikat kembali memblokir resolusi yang dirancang untuk membatasi kekuasaan perang Presiden Donald Trump di Iran dalam pemungutan suara pada Rabu (15/4/2026).

Hasil akhir penghitungan suara menunjukkan 47 anggota parlemen mendukung resolusi tersebut sementara 52 lainnya menolaknya.

ADVERTISEMENT

Penolakan terbaru ini menandai kegagalan keempat kalinya bagi kubu Demokrat sejak operasi militer terhadap Iran dimulai pada akhir Februari lalu.

Resolusi yang diajukan menuntut penarikan pasukan AS secara menyeluruh dari medan konflik kecuali ada deklarasi perang resmi yang dikeluarkan oleh Kongres.

Senator Demokrat Tammy Duckworth dari Illinois menjadi pengusul utama di balik rancangan aturan tersebut karena ia menilai pemerintah harus segera menyudahi konflik yang tidak perlu dan memakan biaya besar.

Meskipun usulannya kembali kandas, Senator Demokrat Chuck Schumer berjanji akan terus memberikan tekanan secara berkala dengan siap mengajukan pemungutan suara untuk resolusi pembatasan ini setiap pekan.

"Jika Republik kembali menolak, kami akan terus memaksakan pemungutan suara untuk resolusi ini setiap pekannya. Langkah ini dilakukan sampai perang berakhir atau mereka berani menentang Donald Trump," ujar Schumer.

Terdapat dua pengecualian menarik dalam pemungutan suara kali ini di mana Senator Republik Rand Paul memberikan dukungannya sementara Senator Demokrat John Fetterman justru menolak resolusi tersebut.

Arah dukungan Partai Republik diprediksi dapat berbalik ketika perang mencapai durasi dua bulan pada akhir April mendatang karena Undang-Undang Kekuasaan Perang 1973 memberikan batas waktu 60 hari bagi presiden dalam mengerahkan pasukan tanpa izin Kongres.

Sejumlah anggota parlemen kini mulai menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap tenggat waktu tersebut karena Senator Thom Tillis dan John Curtis mengaku enggan mendukung perang tanpa persetujuan resmi dari Kongres.

Tekanan juga semakin terasa akibat dampak ekonomi yang mulai mencekik masyarakat di dalam negeri karena harga bahan bakar terus meroket tajam.

"Sederhana saja: mereka bisa memilih bersama saya untuk mengakhiri konflik ini dan membuktikan bahwa mereka benar-benar mengutamakan Amerika, atau mereka bisa memilih untuk mengutamakan ego Trump. Dengan perang yang semakin hari semakin tidak terkendali ini, jelas bahwa mereka tidak bisa terus melakukan keduanya," tutur Duckworth.

Tarik-ulur politik di Washington terjadi di saat militer AS dan Iran sedang menjalani masa gencatan senjata selama dua pekan setelah upaya perundingan damai di Pakistan sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan.

Di tengah jeda pertempuran, militer AS masih memberlakukan blokade laut yang ketat di perairan Iran dan Komando Pusat AS melaporkan tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembus penjagaan mereka dalam dua hari terakhir.

Militer AS mencatat ada sembilan kapal yang dipaksa memutar balik setelah ketahuan mencoba melintasi blokade tersebut.

"Jika AS, sang agresor dan teroris, berupaya melanjutkan tindakan ilegalnya berupa blokade angkatan laut di kawasan tersebut dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal-kapal dagang dan tanker minyak Iran, tindakan AS ini akan menjadi awal dari pelanggaran gencatan senjata," ungkap komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung