Berita, Timur Tengah

Seruan Trump dan Netanyahu untuk Koalisi Selat Hormuz Berakhir Memalukan, Negara Sekutu Kompak Tolak

Repelita.id

14 April 2026 19:24 WIB

Seruan Trump dan Netanyahu untuk Koalisi Selat Hormuz Berakhir Memalukan, Negara Sekutu Kompak Tolak
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta dunia untuk bergabung dalam koalisi angkatan laut multinasional guna menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, namun seruan mendesak ini justru berakhir memalukan setelah satu per satu negara sekutu menutup pintu.

Inggris secara resmi menolak dengan alasan memilih jalur diplomatik mandiri dan tidak akan menambah ketegangan militer di kawasan, demikian pernyataan juru bicara Foreign Office.

ADVERTISEMENT

Italia menolak karena pemerintahan di Roma menilai bahwa blokade laut justru akan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung di Timur Tengah.

Spanyol menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer apa pun tanpa mandat resmi dari NATO atau Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Jepang menyatakan kekhawatiran serius atas keselamatan kapal-kapal dagangnya dan memilih untuk mengandalkan diplomasi daripada kekuatan senjata.

Norwegia yang terkenal sebagai mediator konflik global menolak untuk memihak dalam konflik bersenjata antara AS dan Iran.

Kanada menyatakan bahwa prioritas mereka saat ini adalah stabilitas ekonomi internal dan bukan ekspedisi militer asing di kawasan Teluk Persia.

Australia mengonfirmasi bahwa mereka tidak akan mengirimkan aset angkatan laut untuk misi koalisi yang diusulkan Trump dan Netanyahu.

Jerman dengan tegas menyatakan bahwa solusi untuk Selat Hormuz adalah diplomasi, bukan blokade militer yang dapat memicu eskalasi lebih luas.

Prancis, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan belum memberikan tanggapan resmi hingga berita ini diturunkan pada Selasa, 14 April 2026.

Kegagalan diplomatik ini terjadi di saat ketegangan antara Iran dan Israel mencapai puncaknya, dan AS sendiri mulai menerapkan blokade sepihak terhadap pelabuhan Iran.

Penolakan massal ini bukan hanya pukulan telak bagi prestise pemerintahan Trump, tetapi juga sinyal jelas bahwa dunia tidak ingin terseret ke dalam pusaran perang terbuka.

Tiga faktor utama menjelaskan mengapa sekutu-sekutu tradisional AS ini kompak menarik diri yakni ketakutan akan perang regional total, krisis ekonomi dalam negeri, serta tidak adanya mandat dari Dewan Keamanan PBB.

Iran menyambut baik kegagalan koalisi ini, dengan kantor berita resmi IRNA memberitakan bahwa dunia tidak mau menjadi budak perang Amerika dan Israel.

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, Laksamana Alireza Tangsiri, kembali mengulangi ancaman bahwa pihaknya memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung