Repelita Jakarta - Periode satu tahun kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan mencatatkan penguatan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan melalui berbagai pendekatan stimulus fiskal yang agresif.
Meskipun indikator pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, dinamika tersebut tidak dibarengi dengan stabilitas nilai tukar rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan yang justru mengalami tekanan berat dan ambruk di penghujung masa jabatannya.
ADVERTISEMENT
Dalam mengelola kebijakan fiskal, Purbaya menerapkan langkah berbeda dengan menggelontorkan dana pemerintah sebesar dua ratus triliun rupiah yang ditempatkan pada lima bank milik negara guna menggenjot likuiditas serta penyaluran kredit.
Kebijakan penempatan dana masif tersebut sempat mendulang respons positif dari pasar saham pada awal pelaksanaannya, meski di sisi lain turut memunculkan kekhawatiran terkait potensi tekanan terhadap stabilitas moneter nasional.
Catatan positif pertumbuhan ekonomi terlihat sejak awal kepemimpinannya pada triwulan ketiga tahun 2025 yang tumbuh mencapai lima koma nol empat persen secara tahunan, lalu berlanjut menguat pada triwulan pertama tahun 2026 di angka lima koma enam satu persen.
Capaian semester pertama tahun 2026 yang berada di level lima koma empat puluh lima persen bahkan kerap dijadikan indikator keberhasilan oleh Purbaya untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional mencapai angka enam persen.
Namun di balik capaian makro tersebut, nilai tukar rupiah justru menghadapi tekanan hebat hingga ditutup melemah di level tujuh belas ribu enam ratus enam puluh sembilan per dolar Amerika Serikat menjelang akhir masa jabatannya pada hari Senin, 14 September 2026.
Pelemahan nilai mata uang Garuda serta penurunan pasar saham yang ditandai oleh posisi Indeks Harga Saham Gabungan di level enam ribu lima ratus tiga puluh empat turut diwarnai oleh sentimen arus modal keluar serta kekhawatiran kredibilitas fiskal.
Pendekatan ekspansif yang diambil pemerintah juga berdampak pada pelebaran proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2026 yang meningkat hingga mendekati angka dua koma delapan puluh lima persen dari produk domestik bruto.
Gaya komunikasi Purbaya yang terbuka dan blak-blakan dalam menyampaikan pandangan ekonomi turut menjadi sorotan para pelaku pasar serta investor internasional yang memicu perdebatan mengenai kesinambungan arah kebijakan fiskal ke depan.
Kini, estafet kepemimpinan di kementerian tersebut telah beralih kepada Suahasil Nazara yang langsung menegaskan komitmen penuh untuk menjaga kredibilitas anggaran negara serta memastikan batasan defisit tetap berada di bawah ambang batas aman. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok