Repelita Teheran - Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, dijuluki sebagai the most loved diplomat on the internet karena sikapnya yang rendah hati dan humanis di tengah karier diplomatik yang cemerlang.
Meski kini ia berdiri di puncak karier diplomatik dan menjadi buah bibir di dunia maya, Araghchi tidak pernah benar-benar meninggalkan akar keluarganya sebagai anak cucu pedagang karpet dari Isfahan.
ADVERTISEMENT
Pak Araghchi lahir dalam keluarga pedagang karpet yang berasal dari Isfahan, di mana kakeknya adalah seorang saudagar dan ayahnya meninggal dunia saat Araghchi baru berusia 17 tahun.
Meski berlatar belakang keluarga pedagang, Araghchi memilih jalur akademis dan diplomatik, serta pada masa muda bergabung sebagai relawan di Garda Revolusi Iran.
Ia masih memiliki ketertarikan mendalam pada seni karpet, warisan turun-temurun dari saudara dan leluhurnya yang hingga kini tetap ia lestarikan.
Sebagai diplomat, baginya diplomasi mirip dengan seni menenun karpet, butuh kesabaran tak berujung, ketelitian pada setiap simpul kecil, dan visi untuk melihat keindahan utuh di masa depan.
Pak Araghchi menikah dua kali, pertama dengan Bahareh Abdollahian, seorang pelukis cat minyak ternama, kemudian setelah berpisah menikahi Arezoo Ahmadvand, seorang perempuan terpelajar.
Meskipun ia menjaga privasi kehidupan pribadinya, terdapat beberapa cerita sisi humanis yang bocor ke media, termasuk momen viral saat ia mencium tangan mantan gurunya sebagai bentuk hormat.
Selama masa jeda dari jabatan tinggi di Kementerian Luar Negeri, ia mengisi waktunya dengan menulis dan telah menerbitkan dua buku, yaitu memoar tentang tugasnya di Jepang dan pengalaman negosiasi nuklir.
Setelah namanya disetujui sebagai Menteri Luar Negeri, Araghchi tidak mengadakan selamatan, melainkan pergi ke Makam Syuhada Behesht-e Zahra di Teheran sendirian untuk mendoakan rekan-rekan diplomatnya yang telah wafat.
Di tengah kesibukannya yang luar biasa, ia dikenal sebagai sosok family man yang sesekali membagikan momen kebersamaan dengan anak dan cucunya di media sosial.
Beberapa mantan staf di Kementerian Luar Negeri sering bercerita bahwa Araghchi memiliki kebiasaan menyapa semua orang, mulai dari petugas kebersihan hingga satpam, dengan nama mereka.
Saat bertugas sebagai Duta Besar di Jepang pada 2008 hingga 2011, ia sering mengunjungi komunitas Muslim kecil dan warga lokal di daerah terpencil, duduk makan bersama mereka di lantai.
Atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan bilateral Iran dan Jepang, ia menerima penghargaan prestisius Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star pada April 2022.
Saat gempa bumi dan tsunami besar Tohoku 2011 serta krisis nuklir Fukushima, ia memilih tetap tinggal di Jepang saat banyak diplomat asing mengevakuasi staf mereka.
Ia memimpin tim kedutaan turun langsung ke wilayah terdampak bencana, menyediakan bantuan makanan hangat untuk ratusan korban, serta menyerahkan 50.000 kaleng makanan kepada pemerintah Jepang.
Dalam sebuah wawancara, ia pernah menyatakan bahwa diplomasi bukan hanya soal teks hukum, tetapi soal memahami penderitaan manusia di baliknya.
Para diplomat Barat menggambarkannya sebagai sosok profesional, cerdas secara teknis, namun sangat tangguh dalam mempertahankan kepentingan negaranya.
Enrique Mora, diplomat Spanyol, menyebut Araghchi memiliki intelektualitas tinggi hingga bisa berdiskusi tentang fisika kuantum dan agama, namun bisa sangat tanpa ampun dalam negosiasi.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy Sherman, menggambarkan Araghchi sebagai negosiator yang menggunakan taktik perang parit, sangat ulet dan enggan menyerah pada poin sekecil apa pun.
Di sela-sela ketegangan negosiasi nuklir, Sherman dan Araghchi saling bertukar foto cucu masing-masing untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang lebih beradab.
Seyyed Abbas Araghchi lahir pada 5 Desember 1962, menyelesaikan S1 Hubungan Internasional, S2 Ilmu Politik, dan S3 Pemikiran Politik dari Kent University, Inggris.
Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sejak era Presiden Masoud Pezeshkian pada Agustus 2024, dan merupakan anggota inti tim negosiasi kesepakatan nuklir JCPOA 2015.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok