Berita, Internasional

Sindir Nama Mohammad dan Presiden Iran, Donald Trump Panen Kritik Pedas Kelompok Hak Asasi

Repelita.id

17 October 2026 22:29 WIB

Sindir Nama Mohammad dan Presiden Iran, Donald Trump Panen Kritik Pedas Kelompok Hak Asasi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi publik usai melempar kelakar terkait popularitas nama Mohammad di kalangan umat Islam.


ADVERTISEMENT

Pernyataan bernada sindiran tersebut ia sampaikan saat berpidato dalam gelaran rapat umum kampanye Partai Republik yang berlangsung di hanggar Bandara Kota Dalton, Georgia, pada Jumat lalu.


Dalam orasi politiknya, tokoh politik ternama tersebut secara khusus menyoroti kepemimpinan negara Iran sembari berseloroh mengenai nama yang paling sering dijumpai di wilayah Timur Tengah.


"Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, sebut saja 'Mohammad'. Kemungkinannya sekitar 65 persen," kata Trump di hadapan pendukungnya, dikutip dari Reuters.


"Saya sudah melakukan ini selama bertahun-tahun, dan tidak pernah salah," lanjutnya.


Trump memanfaatkan lelucon tersebut ketika tengah mengulas dinamika peta politik Iran yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Masoud Pezeshkian sejak tahun 2024.


"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden," klaim Trump, lalu berpura-pura bertanya kepada orang bernama Mohammad apakah mereka bersedia mengisi jabatan tersebut.


Meskipun ucapan itu dilontarkan dengan niat menghibur massa, reaksi para pendukung yang hadir di lokasi kampanye justru terasa sangat dingin serta minim respons.


Pernyataan figur publik tersebut mendulang gelombang kritik keras dari berbagai lembaga advokasi Muslim hingga kalangan aktivis hak asasi manusia di wilayah Amerika Serikat.


Retorika yang dibawakan Trump dinilai terus-menerus menyudutkan serta memojokkan keberadaan umat Islam, kelompok imigran, dan berbagai elemen minoritas lainnya.


Eskalasi narasi semacam ini memang terbilang kerap memuncak secara signifikan di tengah momentum gelombang kampanye politik.


Selain itu, Trump juga diketahui menyasar sejumlah figur Muslim Amerika Serikat seperti kandidat Senat AS Abdul El-Sayed serta anggota DPR AS asal Minnesota Ilhan Omar.


Berdasarkan laporan tahunan terbitan Council on American-Islamic Relations yang dirilis awal tahun ini, peningkatan kasus Islamofobia di AS dipicu oleh kebijakan imigrasi keras serta respons atas aksi protes pro-Palestina.


Pada agenda yang sama, Trump kembali menegaskan komitmen politiknya bahwa pihak Iran tidak akan pernah diizinkan untuk memiliki perangkat senjata nuklir dalam bentuk apa pun.


Penegasan bersikap tegas ini mengemuka dalam kurun waktu tujuh bulan pasca ketegangan militer AS dan Israel dengan Teheran demi melumpuhkan program nuklir Iran.(*)


Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung