Berita, Nasional

Sindiran Menohok Hensa ke Parpol: Pemuda Cuma Dicari 5 Tahun Sekali Jam 7 Sampai 12

Repelita.id

31 October 2026 00:20 WIB

Sindiran Menohok Hensa ke Parpol: Pemuda Cuma Dicari 5 Tahun Sekali Jam 7 Sampai 12
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Kalangan generasi muda di dalam negeri kerap kali dipandang sebelah mata dan dinilai tidak acuh terhadap berbagai dinamika kenegaraan.

ADVERTISEMENT

Kendati demikian, data riset terkini yang dirilis oleh Lembaga Survei KedaiKOPI justru menunjukkan kondisi yang berbalik dari pandangan umum tersebut.

Berdasarkan hasil pemetaan data mereka, terdapat sekitar 64,6 persen dari total responden usia muda yang menegaskan ketertarikan mendalam untuk mengawal perkembangan politik di tingkat nasional.

Walaupun antusiasme terhadap isu kebangsaan tergolong tinggi, studi ini juga menyingkap sisi kelam mengenai saluran penyampaian pendapat bagi kelompok usia produktif ini.

Tercatat ada sekitar 62,7 persen responden muda yang merasa bahwa pandangan serta suara mereka sama sekali tidak diakomodasi dalam proses perancangan kebijakan strategis pemerintah.

Perwakilan tim peneliti dari lembaga riset tersebut, Ashma, memberikan pandangan bahwa kesenjangan informasi ini bukan dipicu oleh keengganan kelompok muda untuk berpartisipasi.

Faktor mendasar dari persoalan ini adalah minimnya ketersediaan ruang publik yang inklusif serta akomodatif bagi aspirasi kelompok usia muda tersebut.

"Jadi sebenarnya ada minat yang cukup tinggi bagi pemuda untuk berpartisipasi dalam politik, tapi memang persepsi tidak terwakili itu cukup besar juga," tutur Ashma dalam pemaparan hasil survei di Jakarta.

Berdasarkan hasil tabulasi data, ketidakpuasan terbesar kelompok muda mengarah pada efektivitas agenda penuntasan perkara korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menyentuh angka 65,8 persen.

Aspek lain yang turut menjadi sorotan utama adalah kepastian atas hak kebebasan mengutarakan pandangan kritis di ruang terbuka yang mencatat ketidakpuasan sebesar 62,8 persen.

Saat diminta menentukan prioritas pembenahan mendasar, sebagian besar kelompok muda menempatkan sektor penegakan hukum dan pemberantasan rasuah pada urutan pertama dengan porsi 53,8 persen.

Kebutuhan mendesak berikutnya yang diharapkan segera diatasi adalah penyediaan pos pekerjaan baru serta kepastian upah yang berkeadilan dengan raihan 50,5 persen.

Pendiri dari Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio yang akrab disapa Hensa, memberikan kritik terbuka bagi para elite politik serta jajaran partai di tanah air.

Ia memandang kelompok pemuda sejauh ini baru sebatas ditempatkan sebagai komoditas pendongkrak suara elektoral pada saat masa pesta demokrasi berlangsung.

"Siapa sebetulnya yang akan peduli dengan anak muda Indonesia? Pemuda Indonesia hanya dicari lima tahun sekali, jam 7 sampai jam 12, pada saat pengambilan suara," kata Hensa.

Rasa frustrasi terhadap keandalan institusi resmi mendorong mayoritas kelompok muda untuk beralih menggunakan metode penyampaian pendapat non-konvensional.

Sebanyak 65,9 persen responden menilai gerakan turun ke jalan atau demonstrasi menjadi sarana yang jauh lebih ampuh untuk menuntut perubahan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kanal pengaduan formal milik pemerintah yang berada di posisi terbawah dengan tingkat kepercayaan publik hanya 51,6 persen.

Seorang peneliti senior bernama Lili Romli menganalisis bahwa maraknya aksi protes di ruang terbuka dipicu oleh ketimpangan antara ketertarikan politik dengan keyakinan akan dampak suara mereka.

Kesenjangan struktural inilah yang kemudian mendorong kelompok usia produktif memilih jalur alternatif guna memastikan tuntutan mereka didengar oleh pemangku kebijakan.

"Anak-anak muda tertarik terhadap politik, tetapi tidak yakin suaranya didengar dapat menghasilkan perubahan. Akhirnya, untuk mencari perubahan itu, mereka melakukan demonstrasi," kata Lili.

"Padahal itu kan saluran partisipasi politik yang nonkonvensional. Partisipasi politik konvensional itu melalui partai politik, lembaga parlemen, maupun lembaga politik yang lain," lanjutnya.

Lebih lanjut, Lili meminta agar jajaran pimpinan partai politik beserta perwakilan rakyat di lembaga kedewanan segera menjadikan hasil kajian ini sebagai cermin evaluasi internal.

"Kenapa demonstrasi terus-menerus? Ya, karena mereka tidak didengar," ujarnya.

Ia menilai tingginya ketertarikan politik yang menyentuh 64,6 persen menjadi sinyal kuat bahwa kelompok muda memiliki kepedulian nyata terhadap masa depan bangsa.

"Jangan-jangan demonstrasi itu adalah bagian dari kepedulian terhadap politik itu sendiri," tuturnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung