Repelita Jakarta - Kalangan petinggi Partai Gerindra melontarkan perbandingan tajam mengenai kondisi kebebasan sipil di bawah kepemimpinan nasional saat ini dengan era pemerintahan terdahulu.
Pernyataan terbuka tersebut memantik spekulasi di ruang publik ihwal adanya sinyal perlawanan politik secara terselubung terhadap manuver yang dilakukan mantan Presiden Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
Pimpinan Komisi Tiga Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Habiburrahman, menilai bahwa ekosistem kebebasan berpendapat di era Presiden Prabowo Subianto jauh lebih sehat dan demokratis.
Kritik terselubung itu mengemuka tatkala jajaran legislatif membahas draf legislasi strategis guna memastikan tidak ada celah penyalahgunaan instrumen kekuasaan di masa depan.
Berdasarkan pengalaman masa lalu saat berada di kubu luar pemerintahan, ia menegaskan pentingnya menjaga agar produk hukum tidak berubah fungsi menjadi alat penindasan politik.
Sejumlah pengamat politik membaca dinamika di parlemen tersebut sebagai respons atas berbagai pergerakan luar ruang yang dilakukan oleh sang mantan kepala negara akhir-akhir ini.
Berbagai agenda politik di berbagai daerah yang melibatkan tokoh nasional tersebut dinilai memicu kekhawatiran munculnya pusat kekuatan tandingan di tingkat elite nasional.
Sikap mawas diri yang ditunjukkan oleh internal partai utama pengusung pemerintah ini dibaca sebagai peringatan dini demi mengamankan stabilitas koalisi kekuasaan yang sedang berjalan.
Masyarakat kini terus memantau apakah ketegangan relasi politik antar elite ini akan berlanjut menjadi konfrontasi terbuka menjelang suksesi masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok