Berita, Nasional

Soal nasib kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz, ini kata Danantara

Repelita.id

08 April 2026 14:22 WIB

Soal nasib kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz, ini kata Danantara
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengaku tidak terlibat langsung dalam proses negosiasi antara PT Pertamina (Persero) dan pemerintah Iran untuk meloloskan dua kapal tanker milik perusahaan negara itu melewati Selat Hormuz.

Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menyatakan bahwa pihaknya hanya memantau perkembangan pembahasan tersebut tanpa ikut dalam proses teknis maupun diplomasi yang dilakukan.

ADVERTISEMENT

"Itu nanti silakan tanya sama tim yang lainnya saja," ujar Dony saat ditemui sebelum menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026).

Dony menegaskan bahwa peran Danantara dalam konteks ini lebih pada fungsi monitoring terhadap kinerja BUMN, bukan sebagai pelaksana atau aktor utama dalam negosiasi di lapangan.

"Kalau saya enggak, kita cuma memonitor saja, tetapi tidak terlibat langsung dalam prosesnya," kata Dony ketika mengonfirmasi keterlibatan lembaganya dalam upaya diplomasi tersebut.

Sebelumnya, Pertamina melaporkan bahwa dua kapal miliknya, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, terjebak di dalam area Teluk Arab akibat ketegangan di Selat Hormuz.

Kapal Gamsunoro diketahui tengah berada di Khor al Zubair, Irak, sementara kapal Pertamina Pride sedang melakukan proses pemuatan (loading) di Ras Tanura, Provinsi Timur Arab Saudi.

Pemerintah terus memperkuat koordinasi guna mendukung proses pelintasan kedua kapal tersebut agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman menuju Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait untuk mendukung kelancaran proses tersebut.

"Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah," ujar Anggia melalui keterangan resmi yang disampaikan pada Minggu (29/3/2026).

Untuk menjaga ketahanan pasokan BBM dalam negeri, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber energi dengan membuka opsi pasokan minyak mentah dan BBM dari kawasan selain Timur Tengah.

Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memperluas sumber impor minyak dari berbagai negara demi menjaga kesinambungan pasokan energi nasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung