Berita, Viral Sosmed

Spanduk Raksasa Permohonan Maaf Mahasiswa UGM Dicopot Rektorat Dianggap Catut Identitas Kampus Tanpa Izin Resmi

Repelita.id

22 May 2026 22:25 WIB

Spanduk Raksasa Permohonan Maaf Mahasiswa UGM Dicopot Rektorat Dianggap Catut Identitas Kampus Tanpa Izin Resmi
Foto: Istimewa

Repelita Yogyakarta - Aksi teatrikal berupa pembentangan kain putih berukuran besar yang memuat narasi penyesalan kolektif sempat menghebohkan kawasan gerbang utama sirkulasi luar kampus legendaris di Kota Gudeg.

Dokumentasi visual mengenai keberadaan atribut demonstrasi tersebut langsung tersebar luas di jagat maya sebelum akhirnya diturunkan secara paksa oleh satuan pengamanan internal universitas setempat.

ADVERTISEMENT

Atribut propaganda tersebut memuat teks penyesalan atas proses elektoral nasional yang dinilai berandil melahirkan struktur kepemimpinan kabinet pusat periode berjalan saat ini.

“Demikian permohonan maaf kami buat sebagai bentuk penyesalan karena melihat bobroknya kepemimpinann nasional hari ini yang menjadi jalan pintas kehancuran bangsa,” seperti dikutip dari tulisan di spanduk itu.

Salah seorang perwakilan dari kelompok pergerakan, Gladwin, menjelaskan bahwa atribut tersebut mulai dipasang oleh barisan mahasiswa sejak pagi buta sebelum aktivitas akademik dimulai.

Namun, keberadaan media provokasi visual tersebut hanya bertahan selama dua jam sebelum jajaran otoritas kemahasiswaan menginstruksikan pencopotan paksa demi menjaga kondusivitas area publik.

Langkah pencopotan tersebut dikonfirmasi berjalan atas koordinasi intensif bersama jajaran direktorat kemahasiswaan, meski rincian justifikasinya diserahkan sepenuhnya kepada juru bicara resmi universitas.

Pemasangan media kritik tersebut diklaim sebagai bentuk ekspresi keresahan moral atas fenomena represi suara kritis, pergeseran anggaran dasar pendidikan, hingga pemangkasan alokasi jaminan kesehatan publik.

Sebagai lembaga akademis yang memiliki histori panjang dalam pergerakan kerakyatan, kelompok mahasiswa merasa perlu menyuarakan simpati mendalam bagi elemen masyarakat yang mengalami kriminalisasi akibat bersuara vokal.

“Minta maaf karena universitas kerakyatan ini kehilangan solidaritas perjuangan kepada seluruh rakyat Indonesia yang hari ini menuai pahitnya banalitas rezim,” kata dia, Jumat, 22 Mei 2026.

Di sisi lain, jajaran pimpinan universitas menegaskan bahwa seluruh narasi yang tercantum pada media tersebut sama sekali tidak mencerminkan sikap institusional resmi dari senat akademis kampus.

“Mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku,” kata I Made melalui pernyataan tertulis.

Pihak rektorat menyatakan tetap memberikan ruang bagi kebebasan berpendapat di muka umum, namun pelaksanaannya wajib mematuhi regulasi tata ruang kampus serta memiliki penanggung jawab yang jelas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung