Berita, Internasional

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut, Perang Iran Picu Krisis Avtur Global Penerbangan AS

Repelita.id

03 May 2026 18:35 WIB

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut, Perang Iran Picu Krisis Avtur Global Penerbangan AS
Foto: Istimewa

Repelita New York - Dampak perang Iran kini menjalar ke sektor industri penerbangan Amerika Serikat dengan maskapai Spirit Airlines yang dinyatakan bangkrut akibat tidak mampu menahan beban lonjakan harga avtur yang ekstrem.

Maskapai bertarif murah itu sebenarnya sudah berada dalam tekanan berat setelah menghadapi kebangkrutan keduanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

Namun kenaikan biaya bahan bakar yang terus memburuk akibat konflik Timur Tengah menghancurkan total rencana restrukturisasi perusahaan yang sudah disusun matang.

Upaya terakhir manajemen untuk meminta bantuan darurat kepada pemerintahan Presiden Donald Trump juga kandas di tengah perbedaan pandangan internal para pejabat.

Penolakan datang dari sejumlah pemegang obligasi yang tidak menyetujui skema bantuan yang dapat memangkas keuntungan mereka secara signifikan.

Chief Executive Officer Spirit Airlines, Dave Davis, mengatakan perusahaannya berusaha menyediakan akses perjalanan terjangkau bagi masyarakat luas Amerika selama ini.

Meski demikian, kenaikan signifikan pada harga bahan bakar pesawat disertai tekanan operasional lain telah memperburuk kondisi finansial perusahaan secara drastis dan tidak terduga.

"Sangat mengecewakan dan bukan hasil yang diinginkan siapa pun dari kita," ujar Davis dalam pernyataan resmi yang dikutip media internasional pada Minggu (3/5/2026).

Kehancuran Spirit Airlines hanyalah satu bagian kecil dari krisis ekonomi yang lebih luas akibat perang Iran.

American Airlines pada bulan April memperingatkan lonjakan tagihan bahan bakar hingga mencapai 4 miliar dolar AS sepanjang tahun ini.

Lonjakan biaya tersebut membalikkan proyeksi laba perusahaan yang sebelumnya terlihat sangat optimistis di awal tahun.

United Airlines juga terpaksa memangkas target keuntungan mereka secara signifikan akibat tekanan biaya operasional.

Maskapai global seperti Air France, Lufthansa, dan Cathay Pacific mulai memangkas jaringan rute penerbangan untuk menekan biaya operasional yang membengkak.

Di Amerika Serikat, tarif penerbangan telah naik sebanyak lima kali sejak perang Iran dimulai beberapa bulan lalu.

Gelombang kenaikan tarif yang keenam saat ini sedang berlangsung dan diprediksi akan terus berlanjut.

Maskapai berharap dapat memindahkan sebagian besar beban tambahan kepada konsumen melalui harga tiket yang lebih mahal.

Namun ketahanan daya beli penumpang menjadi pertaruhan besar di tengah inflasi yang juga melonjak tidak terkendali.

Tekanan paling berat menghantam maskapai murah yang bertumpu pada margin keuntungan tipis dan pelanggan yang sangat sensitif terhadap harga.

Chief Executive Officer Avelo Airlines, Andrew Levy, menggambarkan situasi tersebut dengan gambaran yang sangat realistis.

Dengan tarif dasar rata-rata sekitar 115 dolar AS, tambahan 30 dolar untuk biaya bahan bakar menjadi beban yang sangat berat bagi pelanggan.

“Anda tidak bisa begitu saja memberlakukan kenaikan tarif sebesar itu dalam semalam,” ujar Levy mengakui dilema industri.

Ia pun mengakui bahwa industri penerbangan nyaris tidak memiliki pilihan lain selain membebankan biaya tambahan kepada konsumen atau mengurangi layanan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung