Berita, Nasional

Sudirman Said Sebut Krisis Kepercayaan Publik Bukti Lemahnya Tata Kelola Pemerintahan Dan Indeks Demokrasi

Repelita.id

23 July 2026 19:49 WIB

Sudirman Said Sebut Krisis Kepercayaan Publik Bukti Lemahnya Tata Kelola Pemerintahan Dan Indeks Demokrasi
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara menunjukkan bahwa Indonesia memerlukan model kepemruan di luar kekuasaan formal.

Pandangan tersebut diungkapkan oleh Sudirman Said di hadapan para delegasi Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia di Ruteng.

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan bahwa fondasi perubahan bangsa harus bertumpu pada kepemimpinan yang bersumber dari integritas, nilai moral, serta karakter pribadi.

Para kaum terpelajar didorong untuk menumbuhkan kepemimpinan intrinsik yang tidak bergantung pada jabatan maupun otoritas formal semata.

“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” ucap Sudirman.

Menurutnya, berbagai parameter makro menunjukkan arah pembangunan nasional masih belum selaras dengan visi jangka panjang menuju masa depan gemilang.

Indikator tersebut mencakup kemerosotan Indeks Persepsi Korupsi selama sepuluh tahun terakhir kendati angka pertumbuhan ekonomi terpantau stabil.

Selain itu, jurang pemisah perekonomian tetap melebar, jumlah warga miskin bertambah, serta jutaan lulusan sekolah menengah menganggur tanpa kegiatan produktif.

Ketimpangan tata kelola pemerintahan juga terlihat jelas dari goncangan pasar keuangan domestik belakangan ini.

Meski bank sentral terus menggelontorkan cadangan devisa untuk menstabilkan kurs mata uang, tekanan pasar modal tetap menunjukkan hasil yang berat.

"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," terang dia.

Terlepas dari berbagai persoalan pelik tersebut, ia meyakini potensi kebangkitan generasi muda masih menyimpan kekuatan besar.

Sejarah pergerakan tanah air selalu digerakkan oleh tenaga kaum terpelajar mulai dari masa pergerakan awal hingga era perubahan politik.

Jumlah akademisi perguruan tinggi saat ini yang mencapai jutaan orang memberikan modal sosial luar biasa untuk mendobrak kemapanan.

"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," ujar tokoh tersebut.

Kendati demikian, kemunduran kualitas demokrasi dan pelemahan institusi pengawas penegak hukum selama satu dekade terakhir perlu segera dikoreksi.

Guna mengatasi persoalan itu, tiga model kepemimpinan perlu diterapkan secara serentak meliputi pembenahan institusi, kolektivitas, serta penguatan kapasitas intrinsik.

"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan," jelas Sudirman.

"Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," pungkasnya (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung