Berita, Timur Tengah

Tak Percaya Janji Trump, Warga Iran Tolak Gencatan Senjata dengan AS-Israel

Repelita.id

10 April 2026 17:36 WIB

Tak Percaya Janji Trump, Warga Iran Tolak Gencatan Senjata dengan AS-Israel
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Ribuan warga Republik Islam Iran kembali turun ke jalan dengan meneriakkan slogan anti gencatan senjata dan mengkritik keras kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.

Aksi protes ini dilakukan di tengah upacara pemakaman Kepala Intelijen Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayor Jenderal Majid Khademi, yang meninggal dalam serangan Zionis Israel pada Senin lalu.

ADVERTISEMENT

Di tengah prosesi pelepasan jenazah, warga pro pemerintah menyerukan kemarahan mereka terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dinilai mengkhianati perjuangan para martir.

Meskipun Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan setelah menyetujui jeda perang selama dua minggu, sebagian warga Teheran justru merasa dikhianati oleh Amerika.

Kekesalan itu muncul karena drone dan rudal masih terus menghantam wilayah Republik Islam serta negara-negara Teluk Arab pasca kesepakatan ditandatangani.

Bahkan sebagian warga menyatakan sikap skeptis terhadap komitmen Amerika Serikat dalam menepati janji-janji gencatan senjata.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) baru saja merilis peluncuran gelombang serangan ke-100 usai Israel melanggar gencatan senjata dengan melancarkan agresi militer ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026).

Selain sebagai aksi balasan, serangan ini juga dilakukan untuk mengenang mantan pemimpin Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrullah, yang gugur dalam konflik sebelumnya.

Iran mengklaim telah menyerang lebih dari 25 target strategis musuh sebagai respons atas serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Sebelumnya, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua minggu dengan sejumlah poin kesepakatan.

Dalam gencatan senjata itu, Republik Islam Iran menyodorkan sepuluh syarat, di antaranya penghentian agresi militer termasuk ke wilayah Lebanon.

Sementara Amerika Serikat menginginkan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz yang selama konflik ditutup Iran.

Namun selang beberapa jam setelah kesepakatan tersebut diumumkan, rentetan serangan udara Israel ke Beirut memicu kebakaran besar di ibu kota Lebanon.

Israel dengan tegas menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan itu tidak mencakup wilayah Lebanon.

Meskipun mediator Pakistan mengatakan sebaliknya bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata.

Sejak pecahnya perang antara Israel dan Hizbullah pada 2 Maret 2026, Zionis secara teratur menyerang Lebanon selatan dan timur serta pinggiran selatan Beirut.

Namun serangan jarang menyasar pusat kota Beirut seperti yang terjadi pada pekan ini.

Sejak konflik dimulai, lebih dari 1.500 orang tewas dan satu juta orang terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka.

Media Turkiye Anadolu Agency melaporkan salah satu serangan Israel mengenai sebuah restoran di kawasan Almazra di jantung Kota Beirut.

Di sisi lain, Gedung Putih mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka serta menegaskan komitmen untuk menjaga proses perdamaian tetap berjalan sesuai rencana.

Meskipun Washington dan Teheran sama-sama mengklaim kemenangan atas kesepakatan gencatan senjata, serangan drone dan rudal masih terus terjadi di Iran dan kawasan Teluk.

Di sisi lain, Israel memperluas operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon dengan menyasar area komersial dan permukiman di Beirut.

Sedikitnya 182 orang tewas dalam serangan brutal Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon pada Rabu (8/4/2026) menjadikannya hari paling mematikan sejak konflik dimulai.

Bahkan Al Jazeera melaporkan korban tewas mencapai 254 orang dengan 1.165 orang lainnya mengalami luka-luka.

Juru bicara Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kesepakatan gencatan senjata dengan Iran bersifat rapuh dan berisiko tinggi untuk gagal.

Sementara Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai rencana perundingan tidak masuk akal karena Washington melanggar tiga dari sepuluh syarat yang diajukan Teheran.

Pelanggaran itu mencakup serangan Israel terhadap Hizbullah yang terus berlanjut meskipun gencatan senjata telah disepakati.

Teheran juga menyatakan bahwa kesepakatan memungkinkan mereka menerapkan biaya transit bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Namun Gedung Putih menegaskan telah menolak pungutan biaya apapun untuk kapal yang melintasi selat strategis tersebut.

Menurut laporan pada Rabu (8/4/2026), hanya sebelas kapal yang berhasil melintasi selat, jumlah yang tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Sejumlah kapal besar bahkan dilaporkan harus membayar hingga satu dolar AS per barel minyak untuk tetap bisa melewati jalur tersebut.

Terpisah, meskipun menyetujui gencatan senjata, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa ini bukanlah akhir dari perang.

Dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah IRIB, Khamenei menginstruksikan seluruh cabang militer untuk mematuhi perintah gencatan senjata namun tetap siaga penuh.

"Ini bukan akhir dari perang. Seluruh cabang militer harus mengikuti perintah dan menghentikan tembakan, tetapi kewaspadaan tetap yang utama," tegas Khamenei.

Jika Amerika Serikat atau Israel melakukan kesalahan sekecil apa pun, Iran mengeklaim siap membalas dengan kekuatan penuh.

"Tangan kami tetap berada di atas pelatuk. Jika musuh melakukan kesalahan sedikit saja, mereka akan menghadapi kekuatan penuh kami," tulis pernyataan resmi tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung