Repelita [Jakarta] - Pengamat ekonomi Fahmi Hasan Nugroho, yang akrab disapa Pak Dosen, menilai kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter tahun 1998.
Menurut Fahmi, krisis tahun 1998 merupakan guncangan regional yang melanda seluruh kawasan Asia Tenggara secara bersamaan, sehingga banyak negara mengalami keterpurukan serupa.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, kondisi saat ini menunjukkan rupiah melemah sendirian di tengah penguatan mata uang negara tetangga seperti Ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan Dollar Singapura.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa pelemahan yang terjadi bukan semata-mata akibat badai global, melainkan adanya persoalan internal pada ekonomi Indonesia.
Fahmi berpendapat bahwa secara struktural, kondisi ekonomi nasional saat ini jauh lebih kuat dengan cadangan devisa yang memadai dan sistem perbankan yang sehat dibandingkan era krisis silam.
Namun, ia menegaskan bahwa meskipun risiko krisis seperti tahun 1998 kecil kemungkinan terjadi, terdapat masalah krusial berupa krisis kepercayaan terhadap pemerintah.
"Faktor pemicunya kepercayaan kepada pemerintah. Rupiah banyak dipindahkan ke Mata Uang lain, jadinya Rupiah keliatan melemah sendirian. Bukan krisis moneter 1998…tapi krisis kepercayaan," ungkap Fahmi.
Senada dengan itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, juga meminta masyarakat untuk tidak panik dan menganggap situasi saat ini sebagai krisis ekonomi yang setara dengan masa lalu.
Selama tantangan internal terkait kepercayaan pasar ini tidak segera dibenahi, rupiah berisiko tetap menjadi mata uang yang paling rentan dibandingkan mata uang negara tetangga lainnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok