Repelita Jakarta - Pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya tentang tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menuai respons dari pegiat medsos Herwin Sudikta yang menyinggung angka tersebut dengan pendekatan matematika dasar.
“Akhirnya ada juga pejabat yang secara tidak sengaja jujur lewat matematika dasar," ujar Herwin dikutip pada Senin (13/4/2026).
ADVERTISEMENT
Ia kemudian membandingkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai kurang lebih 280 juta jiwa dengan angka kepercayaan 96 juta yang disebutkan Teddy.
“Indonesia itu kurang lebih 280 juta jiwa. Kalau yang percaya katanya 96 juta. Berarti sisanya kurang lebih 180 jutaan dong Ted?," tutur Herwin.
Dikatakan Herwin bahwa angka 96 juta tidak bisa serta-merta disebut sebagai mayoritas karena hanya sekitar 34,3 persen dari total populasi.
“Framingnya seolah 96 juta itu mayoritas padahal cuma 34,3 persen," tegasnya.
Herwin menilai narasi yang dibangun justru berbanding terbalik jika dilihat dari keseluruhan populasi Indonesia.
“Jadi kalau narasinya 96 juta rakyat percaya, ya lebih tepatnya sebagian besar rakyat Indonesia gak percaya," tandasnya.
Ia pun menekankan pentingnya pemahaman dasar dalam membaca data agar tidak terjadi kesalahan persepsi di masyarakat.
“Inilah pentingnya matematika dasar," kuncinya.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena maraknya komentar publik dengan menyebut terjadi inflasi pengamat di berbagai bidang.
“Kemudian yang ketiga, saya mau jawab juga. Sekarang ini, ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ," ujar Teddy.
"Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu, datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” tambahnya.
Ia juga menyinggung bahwa sebagian pengamat telah lama aktif membangun opini publik bahkan sebelum Presiden Prabowo Subianto menjabat.
Meski demikian, Teddy menyebut tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Presiden tetap tinggi dengan lebih dari 96 juta warga lebih percaya kepada Prabowo.
“Tapi faktanya apa? Faktanya, lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo. Tidak percaya mereka. Nah, itu adalah bukti nyata kepercayaan publik. Bukan suatu asumsi,” tukasnya.
Teddy menegaskan bahwa perbedaan pandangan tetap menjadi bagian dari demokrasi namun kritik harus disampaikan secara bijak dan tidak menimbulkan keresahan.
“Jadi, saya kira boleh kita berbeda pandangan, boleh berbeda pendapat, silakan beri kritik. Tapi jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan. Membuat orang cemas terhadap negeri ini. Semuanya stabil, semuanya terkendali. Dan mari kita sama-sama untuk mencapai yang terbaik ke depan,” kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok