Repelita Jakarta - Tengku Zulkifli Usman menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, Presiden AS Donald Trump melakukan tujuh klaim yang kesemuanya adalah kebohongan, sebuah fakta tentang kekonyolan yang terang benderang.
Trump mengklaim bahwa AS berhasil menekan Iran untuk membuka Selat Hormuz, padahal faktanya Iran sendiri yang membuka selat tersebut untuk menghormati masa gencatan senjata yang tersisa satu pekan karena Israel telah berhenti menyerang Lebanon atas tekanan Iran.
ADVERTISEMENT
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi secara tegas menyatakan di akun X bahwa sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata.
Selat Hormuz saat ini masih 100 persen dalam penguasaan Iran, hanya dibuka untuk kapal komersial dengan tarif tertentu, sementara kapal militer serta kapal yang memiliki hubungan dengan AS dan Israel dilarang melintas.
Trump yang dulu memaki Iran dengan kata-kata kasar karena Iran tidak membuka Selat Hormuz, kini retorikanya melunak menjadi ucapan terima kasih kepada Iran, sebuah pengakuan kelemahan di depan Iran.
Trump juga mengklaim bahwa Iran saat ini setuju untuk menyerahkan uraniumnya ke AS, namun klaim ini 100 persen bohong karena sikap resmi Iran tidak berubah bahwa uranium adalah sakral dan tidak boleh disentuh siapa pun.
Carut marut komunikasi Trump tidak hanya terjadi dengan Iran tetapi juga dengan Israel, di mana Tel Aviv disebut sangat terkejut ketika Trump tiba-tiba menekan Netanyahu untuk berhenti menyerang Lebanon.
Netanyahu pada dasarnya tidak mau berhenti berperang dengan Hizbullah, dan Israel menganggap Trump saat ini menyerah banyak kepada Iran bahkan mengesampingkan Israel di Lebanon.
Jika melihat realitas di lapangan, tidak ada satu pun klaim Trump yang menjadi kenyataan, tidak ada perang yang dimenangkan AS, bahkan Iran sekarang sepenuhnya mendikte arah perang dan keputusan negosiasi di meja diplomasi.
Iran melakukan negosiasi dengan AS hanya jika tuntutan Iran terpenuhi, termasuk hak Iran atas pengayaan uranium dihormati, sanksi dicabut, kompensasi perang, serta pengakuan atas kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Situasi di lapangan sebenarnya tidak banyak berubah, Iran masih menganggap situasi ini sebagai situasi perang dan tetap siaga penuh, siap kembali bertempur kapan pun, sementara AS dan Israel dinilai tidak siap melanjutkan perang.
Iran juga sudah menyampaikan kepada Pakistan sebagai negara perantara bahwa Iran tidak akan menerima syarat apa pun dari AS, terutama soal Selat Hormuz, uranium, dan proksi-proksi Iran.
Masa gencatan senjata masih tersisa satu pekan, Iran menghormatinya tetapi tetap bersiap kembali ke gudang balistik, karena kemenangan perang ditentukan oleh realitas di lapangan, bukan oleh cuitan Trump di media sosial.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
In line with the ceasefire in Lebanon, the passage for all commercial vessels through Strait of Hormuz is declared completely open for the remaining period of ceasefire, on the coordinated route as already announced by Ports and Maritime Organisation of the Islamic Rep. of Iran.
— Seyed Abbas Araghchi (@araghchi) April 17, 2026