Berita, Internasional

Terancam Israel, Turki Bangun Kapal Induk Mugem, Lebih Besar dari milik Prancis Charles de Gaulle di Tengah Ketegangan Regional

Repelita.id

01 May 2026 21:22 WIB

Terancam Israel, Turki Bangun Kapal Induk Mugem, Lebih Besar dari milik Prancis Charles de Gaulle  di Tengah Ketegangan Regional
Foto: Istimewa

Repelita Ankara - Di tengah sorotan dunia terhadap konflik dan blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz, galangan kapal Turki justru sedang sibuk membangun kapal induk nasional pertama negara itu yang diberi nama Mugem.

Komandan Angkatan Laut Turki, Laksamana Ercument Tatlioglu, mengatakan pekan lalu bahwa kapal induk raksasa tersebut diperkirakan akan selesai dibangun menjelang akhir tahun depan.

ADVERTISEMENT

Pernyataan resmi tersebut menyebutkan bahwa lambung kapal akan selesai hampir satu tahun lebih cepat dari jadwal yang semula diumumkan kepada publik.

Kapal Mugem merupakan kapal perang terbesar yang pernah dibangun di Turki sepanjang sejarah republik ini berdiri.

Kapal tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 60 ribu ton dengan panjang mencapai 285 meter melampaui ukuran kapal induk Prancis Charles de Gaulle.

Kapal induk kebanggaan Prancis itu hanya memiliki panjang 261 meter dengan bobot 42.500 ton dan selama ini menjadi kapal induk terkuat di kawasan Laut Mediterania.

Mugem dirancang untuk menampung hingga 60 unit pesawat dan dilengkapi dengan sistem lepas landas pendek atau short take-off.

Banyak pihak di Ankara melihat kemajuan pesat proyek ambisius ini yang baru diluncurkan pada Agustus 2025 dengan kehadiran pribadi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Pengerjaan kapal dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Turki dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.

Para pemimpin Israel dari pemerintah maupun oposisi semakin sering menyamakan Turki dengan Iran dalam berbagai retorika politik mereka.

Naftali Bennett, seorang pemimpin oposisi populer yang kemungkinan akan menjadi perdana menteri Israel berikutnya, mengatakan dalam sebuah konferensi di Washington pada bulan Februari bahwa Turki adalah "Iran berikutnya".

Ankara telah mempercepat berbagai proyek pertahanan udara tanpa awak serta lini produksi jet tempur generasi kelima Kaan setelah dua putaran perang antara Israel dan Iran serta Amerika Serikat.

Meysune Yasar, seorang akademisi yang mengkhususkan diri dalam kekuatan angkatan laut Turki, mengatakan aliansi Israel yang berkembang dengan Yunani dan Siprus mendorong negaranya untuk fokus pada kemampuan angkatan laut.

Meskipun kapal induk semacam itu biasanya dikembangkan untuk operasi laut lepas, Yasar mengatakan Ankara mungkin melihat Mugem sebagai pengungkit untuk mencegah potensi aktor bermusuhan di kawasan.

"Hubungan yang semakin hangat antara Siprus Yunani dan Israel telah membuat aliansi ini sangat efektif, dan sikap mereka menjadi cukup agresif," kata Yasar kepada Middle East Eye.

"Turki semakin terisolasi di Mediterania Timur, dan kapal induk ini merupakan kemampuan tambahan dan kebutuhan strategis," pungkasnya.

Membangun kapal induk sebenarnya bukanlah ide baru di Turki karena akarnya dapat ditelusuri hingga awal tahun 1990-an.

Yanki Bagcioglu, mantan laksamana di angkatan laut Turki, mengatakan bahwa konsep untuk penempatan di laut lepas dikembangkan pada tahun 1993.

Konsep tersebut mencakup kapal induk ringan, kapal serbu amfibi, dan proyeksi kekuatan transatlantik yang sangat ambisius pada masanya.

Ia mengatakan bahwa proyek tersebut terwujud sekitar tahun 2017 sebagai tanggapan terhadap studi tentang masa depan angkatan laut Turki.

"Kebutuhan akan kapal induk menjadi prioritas utama," katanya kepada Middle East Eye menjelaskan urgensi proyek tersebut.

Untuk saat ini, militer Turki berencana untuk banyak menggunakan jet tempur tak berawak Kizilelma yang memiliki kemampuan siluman.

Pesawat tempur ringan Hurjet dan kemungkinan versi angkatan laut dari jet tempur generasi kelima Kaan juga akan dioperasikan di kapal tersebut.

Bayraktar TB3 yang sudah beroperasi di TCG Anadolu dengan kemampuan lepas landas pendek yang dibantu kecerdasan buatan juga akan dikerahkan.

Alper Coskun, mantan duta besar Turki, mengatakan proyek kapal induk merupakan sinyal lain bahwa Turki berada pada posisi yang baik dalam arsitektur keamanan Eropa.

Coskun yang sekarang menjadi peneliti senior di lembaga think tank Carnegie di Washington menambahkan bahwa kapal induk tersebut akan meningkatkan kedudukan Turki di NATO.

"Dalam hal itu, ini akan meningkatkan kekuatan tawar-menawar Turki. Tetapi hal-hal ini datang dengan harga yang mahal," katanya.

"Ini juga dapat memicu ketegangan di kawasan dan memicu persepsi ancaman baru," pungkasnya mengingatkan potensi risiko di balik ambisi militer Turki.

Para ahli mencatat bahwa perang di Ukraina dan Iran baru-baru ini mengungkapkan kerentanan kapal-kapal angkatan laut besar terhadap drone kecil dan rudal balistik, termasuk kapal induk.

Sebuah jet tempur F/A-18E Super Hornet jatuh dari USS Harry S Truman ke Laut Merah setelah kapal induk AS tersebut melakukan manuver kecepatan tinggi untuk menghindari tembakan Houthi pada April tahun lalu.

Kapal induk Turki diharapkan dipersenjatai dengan sistem pertahanan canggih seperti sistem peluncuran vertikal, sistem senjata jarak dekat, dan senjata jarak jauh untuk melawan ancaman asimetris.

Komandan Galangan Kapal Istanbul, Laksamana Muda Recep Erdinc Yetkin, mengatakan kepada televisi Turki pada bulan Maret bahwa proyek tersebut berjalan sangat cepat.

Mereka bahkan telah memproduksi landasan pendaratan yang akan diuji di bandara akhir tahun ini sebelum dipasang di kapal.

Kapal tersebut dibangun dengan cepat berkat beberapa galangan kapal yang dapat secara bersamaan memproduksi blok-blok besar secara paralel.

Kapal induk nasional pertama Turki itu diperkirakan akan beroperasi penuh pada tahun 2030 mendatang.

Salah satu dimensi yang disorot oleh orang dalam Ankara adalah meningkatnya pengaruh Turki di Afrika Utara, khususnya Libya, dan investasinya di Tanduk Afrika, terutama Sudan dan Somalia.

Turki sudah melakukan pengeboran untuk sumber daya energi di lepas pantai Somalia dan berencana untuk membangun fasilitas peluncuran antariksa di negara tersebut.

Sebuah kapal induk dapat bertindak sebagai mekanisme pertahanan penting untuk melindungi kepentingan strategis Turki di kawasan tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung