Repelita Jakarta - Penulis terkenal Tere Liye melontarkan kritik pedas melalui akun Facebooknya terkait keributan nasional yang terus menerus terjadi di Indonesia, dengan menyebut bahwa hulu atau pemicu utama dari berbagai masalah tersebut adalah ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Dalam unggahannya yang beredar luas, Tere Liye membandingkan kepintaran bangsa Indonesia saat menganalisis kecelakaan kereta, dimana masyarakat mampu melakukan kajian kronologis secara mendalam hingga ke akar masalah.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, menurut pengarang novel Pulang tersebut, logika masyarakat menjadi somplak atau tidak beres ketika berhadapan dengan persoalan ijazah Jokowi.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah peduli dengan ijazah saat merekrut editor, layouter, ilustrator, maupun staf toko online karena yang penting adalah kemampuan dan kemauan belajar.
Tere Liye menyoroti realitas bahwa ketidakpercayaan sebagian pihak terhadap keaslian ijazah Jokowi tidak pernah terselesaikan karena jawaban hanya datang dari UGM yang rektornya adalah mantan menteri Jokowi serta dari polisi yang merupakan bagian dari pemerintah.
Menurutnya, situasi tersebut sangat tidak masuk akal sehingga masih banyak pihak yang tetap tidak mau percaya, padahal solusi sesederhana menunjukkan ijazah asli di depan publik akan mengakhiri segalanya.
Penulis dengan puluhan judul buku best seller itu heran mengapa hal sesepele itu bisa bertahun-tahun berlarut-larut, menghabiskan biaya besar untuk pengacara mahal serta waktu dan tenaga tanpa kejelasan.
Ia menyoroti fakta bahwa pengadilan tidak pernah benar-benar digelar dan persoalan ijazah ini terus berputar-putar dengan dalih restorative justice, seolah-olah ada upaya sistematis untuk menghindari pembuktian.
Dengan nada sinis, Tere Liye menyebut bahwa jika ijazah tersebut ditaruh di kotak kaca di depan rumah Jokowi dengan karpet merah, tiket masuk Rp10.000 saja bisa menghasilkan miliaran rupiah untuk disumbangkan ke program pangan.
Ia memperingatkan bahwa gara-gara ijazah Jokowi ini, berbagai kasus bermunculan, saling tuduh menuduh, saling fitnah, dan yang lebih serius ada pihak yang membawa-bawa konflik Poso dan Ambon.
Ia menegaskan bahwa tindakan memutarbalikkan fakta serta membawa isu konflik horizontal itu benar-benar seperti api dalam sekam yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa.
Tere Liye menyimpulkan bahwa apa pun sikap masyarakat, baik mau mengakui maupun tidak, hulu dari seluruh kasus dan keruwetan ini adalah ijazah Jokowi.
Ia menantang bahwa jika yang bersangkutan betulan seorang negarawan sejati, maka tidak ada kesulitan sedikit pun untuk menunjukkan ijazah tersebut secara terbuka.
Sekali diperlihatkan, meskipun masih ada pihak yang ngeyel, setidaknya ijazah sudah disaksikan publik dan mereka yang terus membantah akan menjadi semakin tidak relevan.
Catatan admin yang menyertai unggahan tersebut menjelaskan bahwa pemicu terbaru dari ramainya perdebatan ini adalah pernyataan Jusuf Kalla yang meminta Jokowi memperlihatkan ijazah asli.
Video ceramah JK di Masjid Kampus UGM saat bulan Ramadan, yang sudah lama berlalu, dipotong dan dijadikan bahan provokasi setelah JK menyampaikan pendapatnya yang simpel tersebut.
Permintaan JK yang sebenarnya logis dan sederhana itu malah dibalas oleh para pembela Jokowi dengan memotong-motong video ceramahnya untuk dijadikan senjata provokasi di media sosial.
Admin menegaskan bahwa apa yang disampaikan Tere Liye tentang sumber masalah dari rentetan keributan nasional ini bermuara pada ijazah Jokowi yang tidak kunjung ditunjukkan meskipun sudah bertahun-tahun menjadi polemik.
Dengan kata lain, menurut catatan admin tersebut, sumber segala keruwetan, perpecahan, dan pemborosan energi bangsa ini adalah sikap Jokowi sendiri yang enggan mengakhiri kontroversi dengan bukti fisik yang sangat sederhana.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok