Berita, Nasional

Tere Liye Kritik Inkonsistensi Gerindra dan PDIP Terkait Lonjakan Utang Negara Usai Berkuasa

Repelita.id

14 May 2026 13:29 WIB

Tere Liye Kritik Inkonsistensi Gerindra dan PDIP Terkait Lonjakan Utang Negara Usai Berkuasa
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Penulis kondang Tere Liye menyampaikan kritik yang sangat tajam dan menohok terkait inkonsistensi sikap dari partai-partai politik besar di Indonesia ketika dihadapkan pada persoalan pembengkakan utang luar negeri negara.

Sastrawan tersebut menilai tidak ada perbedaan mendasar mengenai komitmen ideologis antara dua partai politik penguasa karena dinilai kerap membalikkan narasi politik mereka sendiri setelah berhasil memenangkan kontestasi pemilu nasional.

ADVERTISEMENT

“Apa bedanya GERINDRA sama PDIP? Nggak ada. Sama-sama tukang jilat ludah.”

Dalam ulasannya, ia mengingatkan publik mengenai memori kolektif masa lalu saat partai berlambang banteng moncong putih melontarkan kecaman luar biasa keras terhadap tata kelola keuangan pada masa kepemimpinan presiden keenam.

“Dulu, PDIP mengkritisi habis-habisan SBY, bilang SBY mabuk utang. SBY selesai, meninggalkan utang 2.600 T.”

Fenomena pembalikan sikap tersebut dinilai kembali berulang secara persis ketika partai bentukan kepemimpinan saat ini bertindak sebagai kubu oposisi yang sangat rajin mengkritik akumulasi pinjaman pada era pemerintahan berikutnya.

“Giliran PDIP berkuasa, maka GERINDRA yang berisik banget mengkritisi Jokowi doyan utang. Jokowi berakhir meninggalkan utang 8.560 T.”

Ia mengaku sangat prihatin melihat realitas pergerakan angka pinjaman nasional saat ini yang justru mengalami lonjakan luar biasa besar dalam kurun waktu yang relatif sangat singkat di bawah kendali rezim baru.

“Eehh giliran GERINDRA dong berkuasa, dasar ambyar bin bengak, itu utang jadi 10.000 T hanya dalam waktu 18 bulan saja. 2029, utang ini boleh jadi tembus 15.000 T. Crazy.”

Lebih lanjut, dirinya menyindir para elite politik yang dianggap sengaja melupakan segala pernyataan serta janji-janji manis yang pernah mereka obral kepada masyarakat luas demi mendapatkan simpati suara.

“Tapi orang-orang ini lupa semua ocehannya. Oh, ingat ding, tentu saja masih ingat. Tapi itu ludah sudah dijilati sampai kering. Benar-benar kering total dijilati.”

Sebagai penutup, ia melayangkan pesan terbuka yang sangat menohok kepada para pengelola akun media sosial resmi milik organisasi politik agar kembali mengedepankan nilai moralitas dan rasa malu kepada publik.

“Bilangin ke admin-admin akun medsos partai, mereka masih punya malu nggak? Semua jejak digitalnya berserakan dimana-mana.”.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung