Repelita Teheran - Amerika Serikat kembali dinilai melakukan tipu daya dengan dalih perundingan, sementara Iran menyatakan siap melanjutkan perang dan telah menyiapkan target-target utama.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa negaranya belum mengambil keputusan apa pun mengenai partisipasi dalam putaran baru negosiasi yang gagal total.
ADVERTISEMENT
"Sejauh ini, kami belum mengambil keputusan apa pun mengenai putaran negosiasi berikutnya," ucap Baqaei pada Senin, 20 April 2026.
Ia kemudian mengkritik Amerika Serikat karena terlibat dalam berbagai tindakan yang dinilai bertentangan dengan klaim Washington untuk mengejar jalur diplomasi.
Menurut Baqaei, sejak awal masa gencatan senjata, Iran telah menghadapi itikad buruk dan keluhan terus-menerus dari pihak Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa awalnya AS mengklaim bahwa Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata, meskipun Pakistan secara tegas menyatakan sebaliknya.
Setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai, Iran justru menghadapi aksi maritim agresif di Selat Hormuz.
Termasuk serangan AS terhadap kapal dagang Iran pada Minggu malam, 19 April 2026 yang dinilai sebagai pelanggaran berat.
Menurut Baqaei, ini adalah bukti jelas pelanggaran gencatan senjata dan tindakan agresi yang tidak bisa ditoleransi.
"Iran akan mengambil keputusan yang diperlukan tentang jalan ke depan dengan mempertimbangkan kepentingan nasionalnya secara cermat," tambahnya.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, mengklaim bahwa Iran memiliki stok amunisi rudal yang melimpah.
Iran juga siap untuk meladeni perang jangka panjang melawan Amerika Serikat dan sekutu Zionis Israel.
Mousavi mengatakan bahwa pasukannya dengan cepat membangun kembali cadangan rudal dan drone selama masa gencatan senjata.
“Selama periode gencatan senjata, kecepatan kami dalam memperbarui dan mengisi kembali platform peluncuran rudal dan drone bahkan lebih besar daripada sebelum perang," katanya pada Senin, 20 April 2026.
"Kami memiliki informasi bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi seperti itu untuk dirinya sendiri dan terpaksa mendatangkan amunisi dari sisi lain dunia secara bertahap,” sambungnya.
Mousavi menyebut bahwa Amerika Serikat dan Israel telah kalah dalam perang ini di berbagai lini.
“Mereka juga telah kalah dalam tahap perang ini. Mereka telah kehilangan Selat Hormuz, dan mereka juga telah kehilangan Lebanon dan kawasan ini,” ujarnya.
Iran secara terbuka mengancam akan melumpuhkan total ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Target utamanya bukan hanya Selat Hormuz yang sudah ditutup, tetapi juga jalur-jalur alternatif negara-negara Teluk.
Laporan Tasnim yang dekat dengan IRGC mengungkapkan rencana komprehensif Teheran untuk menghancurkan infrastruktur minyak negara tetangga.
Republik Islam telah menyusun daftar target strategis yang akan diserang jika perang kembali meletus.
Target pertama adalah Pipa Minyak Yanbu di Arab Saudi yang menjadi jalur vital Kerajaan Saudi.
Jika pipa ini hancur, Saudi akan kehilangan satu-satunya jalur ekspor yang tersisa setelah Selat Hormuz ditutup.
Target kedua adalah fasilitas Fujairah di Uni Emirat Arab, pusat penyimpanan dan pengiriman minyak terbesar di kawasan.
Target ketiga adalah penutupan total Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
Ancaman Iran kali ini berbeda karena merupakan rencana terkoordinasi untuk melumpuhkan seluruh infrastruktur energi Timur Tengah.
Jika ancaman ini benar-benar dieksekusi, harga minyak dunia berpotensi meroket ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para analis bahkan menyebut skenario terburuk bisa menembus 200 dolar AS per barel.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok