Repelita [Jakarta] - Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, menegaskan bahwa wacana Reformasi Jilid II harus dimaknai sebagai upaya perbaikan sistem secara menyeluruh, bukan sekadar pergantian figur pemimpin.
Pernyataan tersebut disampaikan Tiyo saat hadir sebagai narasumber dalam Dialog Kebangsaan bersama pengurus BEM Unismuh Makassar, Minggu (15/6/2026) malam.
ADVERTISEMENT
Menurut Tiyo, label Reformasi Jilid II merupakan simbol semangat perubahan yang substansinya jauh lebih penting daripada sekadar aksi menurunkan presiden.
“Jangan dibayangkan Reformasi Jilid II itu sama seperti Reformasi 1998. Bukan sekadar melengserkan Prabowo lalu menggantinya dengan figur lain,” ujar Tiyo.
Ia menekankan bahwa agenda perubahan bisa menggunakan terminologi apa pun, selama fokus utamanya tetap pada perbaikan kondisi fundamental negara.
“Yang dibutuhkan adalah agenda-agenda perubahan. Judulnya bisa Reformasi Jilid II, bisa Reset Indonesia, bahkan Revolusi Indonesia,” tukasnya.
Berkaca dari sejarah 1998, Tiyo mengingatkan bahwa pergantian pemimpin tanpa disertai pembenahan sistem hanya akan membawa bangsa kembali ke titik awal.
“Kalau yang diganti hanya pemainnya sementara sistemnya tetap, maka hasilnya akan kembali ke titik semula. Seolah-olah maju, tetapi sebenarnya mundur. Persis kayak huruf U. Persis kayak sepatu kuda. U-turn,” imbuhnya.
Ia pun menyoroti adanya kemunduran kualitas demokrasi dan menilai praktik pembungkaman kritik saat ini jauh lebih terselubung dibandingkan masa lalu.
“Dulu orang bisa merasakan langsung pembungkaman, ada yang diculik, ada yang diburu tentara. Sekarang itu mainnya jauh lebih kejam, jauh lebih tidak terlihat. Sehingga sampai kita ini enggak bisa percaya sama siapa pun hari ini,” ucapnya.
Tiyo berpesan agar mahasiswa tetap kritis namun tidak terjebak dalam dikotomi hitam-putih mengenai pihak mana yang benar atau salah di dalam peta politik saat ini.
“Yang di dalam tidak semuanya buruk, yang di luar juga tidak semuanya baik. Kita enggak tahu aktivis yang teriak-teriak ini orangnya siapa, bekingannya siapa. Susah percaya kita,” kuncinya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok