Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (30/4/2026) menegaskan sikap kerasnya bahwa AS akan mengambil alih persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran dengan cara apa pun yang diperlukan.
"Kami ingin mendapatkannya. Kami akan mengambilnya dengan satu atau lain cara. Kami akan mendapatkannya. Mereka akan memberikannya kepada kami atau kami akan mengambilnya," ujar Trump di Gedung Putih, seraya menambahkan bahwa tindakan itu "bahkan tidak akan sulit" untuk dilakukan .
ADVERTISEMENT
Pernyataan tegas Trump tersebut disampaikan di tengah kebuntuan negosiasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik secara permanen, sementara tenggat waktu yang telah diperpanjang oleh presiden AS itu masih mandek.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa Iran mengusulkan untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan, namun menunda pembahasan lebih lanjut mengenai program nuklirnya ke tahap berikutnya .
Sementara itu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada Rabu (29/4/2026) mengungkapkan bahwa upaya verifikasi lembaganya sangat terhambat oleh kondisi keamanan yang buruk di lapangan.
Grossi menjelaskan bahwa para inspektur sebenarnya dijadwalkan untuk mengunjungi fasilitas nuklir Iran yang baru diumumkan pada 13 Juni tahun lalu, namun serangan gabungan AS-Israel justru dimulai pada hari yang sama.
"Akses seharusnya dilakukan pada 13 Juni, tepat pada hari dimulainya serangan," ujar Grossi, yang mengakui bahwa waktu tersebut membuat misi inspeksi menjadi tidak mungkin untuk dilaksanakan .
Kepala IAEA itu juga menambahkan bahwa badan tersebut sebelumnya telah memantau secara ketat persediaan besar uranium yang diperkaya di Iran sebelum konflik meningkat menjadi perang terbuka .
Menurut data IAEA, Iran saat ini memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen, yang secara teknis hanya selangkah lagi dari tingkat 90 persen yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir .
Grossi sebelumnya telah memperingatkan bahwa jumlah uranium yang diperkaya tersebut diperkirakan cukup untuk diproduksi menjadi hingga sepuluh bom nuklir, jika Teheran memutuskan untuk memiliterisasi program nuklirnya .
Sebagian besar uranium yang sangat diperkaya tersebut kemungkinan besar masih berada di kompleks nuklir Isfahan, meskipun lokasi tersebut telah menjadi sasaran serangan udara AS-Israel pada Juni tahun lalu .
Menyusul meningkatnya ketegangan, Komando Pusat AS (CENTCOM) dikabarkan tengah menyiapkan opsi militer baru untuk Iran, termasuk serangan "singkat dan kuat" terhadap infrastruktur serta kemungkinan operasi darat untuk mengamankan persediaan uranium yang sangat diperkaya tersebut .
Presiden Trump sendiri sebelumnya mengaku bahwa blokade laut yang diberlakukan AS di Selat Hormuz dinilai "lebih efektif daripada pemboman" untuk menekan Iran secara ekonomi, namun ia tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke aksi militer besar-besaran jika negosiasi gagal .
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menegaskan bahwa blokade Selat Hormuz akan berlangsung selama diperlukan dan berlaku untuk semua kapal tanpa memandang kewarganegaraan.
Sementara itu, AS dan Iran dilaporkan terus melakukan negosiasi di belakang layar melalui mediasi Pakistan untuk mencapai solusi damai, namun hingga saat ini belum ada kesepakatan permanen yang berhasil diraih oleh kedua belah pihak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok