Repelita Jakarta - Pengamat hubungan internasional Piazaro Ghozali menilai bahwa perang di Timur Tengah antara Amerika-Israel melawan Iran menjadi pelajaran berharga bahwa alutsista Amerika Serikat mulai tidak relevan dengan perkembangan zaman, terutama kapal induk super yang selama ini menjadi kebanggaan militer AS.
Menurut Ghozali, kapal induk atau sistem pertahanan sekelas Iron Dome yang sangat modern ternyata bisa ditembus dan menjadi bulan-bulanan alutsista murah namun efektif yang digunakan oleh Iran dalam konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
ADVERTISEMENT
“Iran berhasil menembak jet siluman ternyar F-35. Ini membuktikan ada teknologi alutsista yang efektif dan murah,” kata Ghozali dalam pernyataannya pada Senin (30/3/2026).
Ia menegaskan bahwa kapal induk Amerika Serikat yang nilainya mencapai Rp211 triliun tidak lagi relevan dalam perang masa depan karena rentan diserang oleh rudal balistik dan taktik perang asimetris yang dikembangkan Iran.
Bukti teranyar dari kerentanan tersebut adalah dua kapal induk AS, USS Gerald R. Ford (CVN-78) dan USS Abraham Lincoln, yang menjadi korban rudal di Timur Tengah dan terpaksa meninggalkan arena perang.
“Dengan pengawalan kapal perusak berpeluru kendali, kapal selam membuat gugusan tempur ini justru menjadi kelemahan,” terang Ghozali menjelaskan kelemahan struktural dari armada kapal induk super yang selama ini menjadi andalan proyeksi kekuatan global Amerika Serikat.
Analisis dari lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington pada Jumat (27/2/2026) mengungkapkan bahwa kekuatan AS di Iran kali ini hanya mampu untuk operasi pengeboman terbatas, bukan untuk operasi tempur besar atau perubahan rezim.
CSIS menilai bahwa dua gugus serang kapal induk yang dikerahkan AS, yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford, dengan total 130 pesawat tempur dan 16 kapal perang permukaan, masih kekurangan marinir, pasukan operasi khusus, dan logistik untuk serangan udara yang berkepanjangan.
Kompas.id melaporkan bahwa Iran terus meningkatkan kemampuan militernya termasuk melakukan reverse engineering atas teknologi militer AS, seperti saat berhasil membajak drone RQ-170 yang kemudian dikembangkan menjadi drone Shahed 171 .
Sejarah telah mencatat bahwa dalam simulasi perang Millennium Challenge 2002 yang melibatkan 13.000 pasukan tempur AS, seorang jenderal pensiunan Korps Marinir berhasil menenggelamkan kapal induk AS hanya dalam hitungan hari menggunakan taktik perang asimetris yang mirip dengan strategi Iran saat ini.
Letnan Jenderal Paul K. Van Riper yang memimpin Pasukan Merah dalam simulasi tersebut menggunakan kapal-kapal kecil cepat yang sarat bahan peledak dan rudal untuk membombardir armada kapal induk AS hingga tenggelam, sebuah skenario yang kini menjadi kenyataan di Timur Tengah.
Saat itu, para pengawas latihan perang AS dan pejabat Departemen Pertahanan AS (Pentagon) terhenyak karena konsep peperangan berbasis jaringan (Network-Centric Warfare) yang dibuat Pentagon ternyata gagal, dan mitos bahwa kapal induk AS tak terkalahkan telah punah .
Kompas.id juga melaporkan bahwa dalam analisis di laman Chatam House, disebutkan bahwa untuk melawan persenjataan AS dan sekutunya yang mahal, strategi yang efektif adalah menggunakan senjata murah yang dibuat Iran atau negara lain .
Dengan pengawalan kapal perusak berpeluru kendali dan kapal selam yang membuat gugusan tempur ini justru menjadi kelemahan, kapal induk AS yang dulu dianggap sebagai simbol kedigdayaan global kini menjadi target terapung yang rentan di perairan sempit seperti Teluk Persia atau Selat Hormuz.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok