Berita, Timur Tengah

Trump Kerahkan Armada Tempur ke Hormuz, Iran Ancaman Kuburan untuk Kapal Induk AS

Repelita.id

04 May 2026 17:57 WIB

Trump Kerahkan Armada Tempur ke Hormuz, Iran Ancaman Kuburan untuk Kapal Induk AS
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Selat Hormuz kini berada dalam kondisi siaga penuh setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengerahkan armada tempur ke jalur perairan strategis tersebut.

Langkah ini diambil setelah Iran mengeluarkan ancaman tegas untuk menghancurkan kapal-kapal tanker Amerika yang berani melintas di kawasan itu.

ADVERTISEMENT

Ketegangan yang sempat mereda karena gencatan senjata kini meledak kembali secara tiba-tiba dan tidak terduga.

Selat Hormuz yang menjadi urat nadi ekonomi global kini berubah menjadi panggung adu kekuatan antara dua musuh bebuyutan.

Trump tidak main-main dalam mengambil keputusan ini karena ia memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak rudal untuk bersiaga penuh.

Tujuannya adalah untuk mengawal kapal-kapal tanker yang terjebak sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Namun di sisi lain Iran justru balik mengancam dengan menyebut bahwa armada tempur AS itu akan berubah menjadi kuburan di dasar laut Selat Hormuz.

Keputusan Trump untuk mengerahkan armada tempur diumumkan secara dramatis melalui media sosial pada Ahad malam (3/5/2026).

Presiden AS itu menyatakan bahwa "Project Freedom" akan dimulai pada Senin pagi 4 Mei 2026 dengan tegas.

"Kami lindungi jalur perdagangan bebas. Iran jangan coba-coba," tulis Trump dalam unggahannya yang viral.

Trump menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah banyak negara netral meminta bantuan AS untuk membebaskan kapal-kapal mereka yang terjebak.

"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terlarang ini," tegasnya.

Armada yang dikerahkan tidak main-main karena kapal induk USS Abraham Lincoln yang sebelumnya berpatroli di Laut Arab diperintahkan mendekati Selat Hormuz.

Kapal ini membawa sekitar 90 pesawat tempur termasuk F-35 dan F/A-18 yang siap digunakan kapan saja.

Kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke juga ikut dikerahkan untuk memberikan perlindungan anti-rudal dan anti-drone.

Sebelumnya dalam pidatonya di Florida pada Jumat (1/5/2026), Trump sempat menggambarkan operasi di Selat Hormuz sebagai bisnis yang menguntungkan.

Ia merujuk pada penyitaan minyak Iran oleh kapal-kapal AS dalam beberapa pekan terakhir.

"Saya suka bisnis ini. Kapal-kapal kita membawa pulang minyak. Iran tidak bisa berbuat apa-apa," kata Trump saat itu.

Kini pernyataan itu terbukti menjadi ramalan yang menjadi kenyataan di lapangan.

Di seberang lautan, ancaman mengerikan justru dilontarkan oleh tokoh senior Iran, Mohsen Rezaee.

Ia mengatakan bahwa jalur air strategis itu akan dijadikan kuburan bagi kapal induk dan pasukan Amerika Serikat.

Rezaee menyamakan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut dengan aksi bajak laut modern.

"Amerika Serikat adalah satu-satunya bajak laut yang memiliki kapal induk," sindirnya dengan pedas.

Ancaman ini bukan sekadar retorika kosong karena Rezaee adalah tokoh militer senior yang sangat dihormati di Iran.

Sebagai mantan panglima Korps Garda Revolusi Islam, ia memiliki pengaruh besar terhadap korps elit tersebut.

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, juga ikut angkat suara mendukung ancaman Rezaee.

"Presiden AS Donald Trump harus menghentikan obsesinya melakukan provokasi militer terhadap Iran," tegas Bagheri.

Ia menambahkan bahwa setiap provokasi akan dihadapi dengan respons terkuat, paling tegas, dan paling menyakitkan.

Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksamana Muda Alireza Tangsiri, mengumumkan aturan baru yang semakin memanaskan situasi.

Iran telah menyusun 12 langkah baru untuk mengatur Selat Hormuz yang isinya sangat mengejutkan publik internasional.

Kapal-kapal Zionis Israel dilarang total melintas sementara kapal dari negara sekutu AS harus membayar ganti rugi.

"Tidak ada kapal baik kawan maupun lawan yang memiliki hak untuk melintas tanpa izin dari pasukan kami," tegas Tangsiri.

Selat Hormuz bukanlah selat biasa karena jalur air sempit antara Iran dan Oman ini mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Sekitar 18 hingga 20 juta barel minyak melintas di sini setiap hari menuju ke berbagai penjuru dunia.

Dengan penutupan selat sejak perang pecah, harga minyak mentah Brent telah melonjak ke atas 126 dolar AS per barel.

Jika kapal perang AS dan kapal tanker benar-benar mulai bergerak dan Iran melaksanakan ancamannya, harga bisa melesat ke 200 dolar AS per barel.

Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, komandan unit rudal IRGC, mengonfirmasi kesiapan pasukannya untuk menutup selat jika diperlukan.

Ia menambahkan bahwa rudal-rudal anti-kapal Iran telah ditempatkan di sepanjang pantai utara Selat Hormuz.

Rudal-rudal itu mampu menjangkau seluruh bagian selat yang lebarnya hanya sekitar 50 kilometer di titik tersempit.

Iran memiliki pengalaman nyata menyerang kapal tanker di selat ini pada tahun 2019 di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab.

Kali ini dengan situasi yang jauh lebih panas, tidak ada yang meragukan keseriusan ancaman yang dilontarkan Teheran.

Dengan Trump yang mengerahkan kapal perang dan Iran yang mengancam akan menghancurkan kapal-kapal itu, dunia kini benar-benar berada di ambang perang besar.

Satu tembakan peringatan atau satu rudal yang meleset bisa memicu konflik yang akan melibatkan seluruh kawasan Timur Tengah.

Pentagon mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perusak pendukungnya telah menerima perintah untuk bersiap.

Awak kapal dilarang meninggalkan kapal dan pesawat-pesawat tempur dalam kondisi siap lepas landas setiap saat.

Di Teheran suasana juga tegang karena Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengadakan rapat darurat pada Ahad (3/5/2026).

Rapat dipimpin oleh Presiden Masoud Pezeshkian dan hasilnya belum diumumkan hingga berita ini diturunkan.

Pertanyaannya sekarang, apakah Trump akan benar-benar memandu kapal-kapal tanker itu di tengah ancaman Iran.

Apakah Iran akan benar-benar menembaki kapal perang Amerika Serikat yang berani mendekati wilayahnya.

Atau pada menit-menit terakhir kedua belah pihak menyadari bahwa konsekuensi tabrakan langsung terlalu berbahaya bagi semua pihak.

Selat Hormuz yang tenang selama beberapa minggu terakhir karena gencatan senjata kini kembali berubah menjadi zona perang.

Kali ini tidak ada mediator yang cukup kuat untuk menghentikan kedua belah pihak yang saling adu kekuatan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung