Berita, Internasional

Trump Ngamuk Baca Proposal Iran, Kanselir Jerman Sebut AS Dipermalukan, Ini Persaingan Sengit

Repelita.id

30 April 2026 15:12 WIB

Trump Ngamuk Baca Proposal Iran, Kanselir Jerman Sebut AS Dipermalukan, Ini Persaingan Sengit
Foto: Istimewa

Repelita Washington D.C. - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan ngamuk setelah membaca isi proposal damai terbaru yang diajukan oleh Iran dalam negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya yang sangat aktif, Trump dengan nada meledak-ledak menilai bahwa rezim Teheran sama sekali tak bisa diajak berkompromi dalam hal program nuklir.

ADVERTISEMENT

"Iran tidak becus mengatur segalanya. Mereka sebaiknya segera bertindak cerdas," katanya dengan nada kesal seperti dikutip dari Al Jazeera pada Rabu, 29 April 2026.

"Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir yang jelas dan menguntungkan kedua belah pihak," sambungnya dalam cuitan yang langsung viral tersebut.

Kemarahan Trump ini dipicu oleh fakta bahwa proposal Iran sama sekali tidak mencakup pembahasan tentang penghentian program pengayaan uranium.

Sebaliknya, Teheran justru lebih memprioritaskan pengakhiran blokade laut dan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal tanker.

Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan pernyataan mengejutkan yang semakin memperburuk citra Amerika Serikat di mata dunia.

Ia menyebut dengan lantang bahwa Amerika Serikat kini sedang dipermalukan dalam perangnya yang berkepanjangan melawan Iran.

Dilansir dari media kawasan Al Jazeera, menurut penilaian Merz, pemerintahan Washington saat ini tak punya jalan keluar yang jelas dari konflik berdarah tersebut.

Ia lantas menilai bahwa Teheran kini semakin unggul dalam pertempuran melawan Amerika Serikat dan sekutu lamanya Israel.

Hal itu disampaikan Merz saat berbicara di hadapan para mahasiswa yang berkumpul di Kota Marburg, Jerman pada Senin, 27 April 2026.

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, pemimpin Jerman itu menyebut situasi di Iran telah mengungkap masalah strategis yang sangat dalam di tubuh militer AS.

Ia kemudian dengan berani membandingkannya dengan kegagalan militer negeri Paman Sam itu di masa lalu yang penuh aib.

Lebih lanjut, Merz berpendapat bahwa para pejabat Teheran bernegosiasi dengan sangat terampil dan cerdik di setiap kesempatan.

Mereka tampak jauh lebih kuat, percaya diri, dan terkoordinasi dari yang diperkirakan oleh publik dan para analis internasional.

Atas dasar penilaian yang mendalam itulah ia menyebut seluruh bangsa Amerika telah dipermalukan oleh kepemimpinan Iran yang tangguh.

Di tengah suasana saling adu gengsi ini, dosen keamanan internasional dari King's College London, Rob Geist Pinfold, memberikan analisis akademisnya.

Ia menilai bahwa saat ini yang terjadi antara Washington dan Teheran adalah sebuah persaingan sengit yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baik saat perang fisik berlangsung di darat, laut, dan udara, maupun dalam perundingan yang dimediasi oleh pemerintah Pakistan.

"Kita telah melewati tahap, setidaknya untuk saat ini, untuk perang fisik di medan laga," ujarnya dalam wawancara eksklusif.

"Tetapi kita masih berada dalam tahap persaingan sengit antara AS dan Iran di mana kedua pihak pada dasarnya mencoba memberi sinyal," jelas pengamat tersebut.

Mereka ingin menunjukkan kepada pihak lain bahwa mereka memiliki lebih banyak ketahanan ekonomi, militer, dan politik dalam jangka panjang.

Mereka juga ingin membuktikan bahwa waktu ada di pihak mereka, bukan di pihak lawan yang sedang kehabisan opsi dan strategi.

Menurut analisis Pinfold, Teheran saat ini sedang menunda semua masalah sulit dengan memprioritaskan pengakhiran perang terlebih dahulu.

Prioritas kedua mereka adalah membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal tanker internasional tanpa campur tangan AS.

"Iran tahu bahwa, jika mereka melepaskan itu (Selat Hormuz), maka mereka pada dasarnya melepaskan kartu terbaik mereka dalam negosiasi," tambah Pinfold.

Persaingan sengit ini diperkirakan masih akan berlangsung lama mengingat kedua belah pihak sama-sama tidak mau menunjukkan tanda-tanda kelemahan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung