Berita, Timur Tengah

Trump Ngotot Bahas Nuklir, Iran Tegas: Urungkan Niat Anda!

Repelita.id

28 April 2026 18:20 WIB

Trump Ngotot Bahas Nuklir, Iran Tegas: Urungkan Niat Anda!
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tegas menolak skema bertahap yang diajukan Iran, dan malah ngotot untuk membahas program nuklir Teheran terlebih dahulu sebelum membuka pelabuhan atau mengakhiri perang.

"Kami tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja. Kami harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat benar-benar mencegah mereka bergerak cepat menuju senjata nuklir," demikian pernyataan sikap Washington yang disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

ADVERTISEMENT

Dalam rapat terbatas tim keamanan nasional pada Senin, 27 April 2026, Trump menyatakan ketidaksukaannya terhadap proposal terbaru Republik Islam yang dinilainya menghindari isu utama.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan bahwa blokade laut atas Iran tidak akan dicabut sebelum ada kesepakatan konkret soal program pengayaan uranium.

"Nuklir adalah nomor satu, tidak bisa ditunda," tegas Wales mengulang sikap keras kepala pemerintahan Trump.

Menanggapi sikap arogan Washington, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru memberi respons dingin yang mengejutkan para diplomat di Islamabad.

"Urungkan niat Anda, jangan paksakan isu nuklir sebelum perang dihentikan," demikian pesan tegas Teheran yang disampaikan Araghchi dalam pertemuan tertutup dengan mediator Pakistan.

Republik Islam bersikukuh bahwa Selat Hormuz harus dibuka dan blokade laut dicabut terlebih dahulu sebagai bentuk itikad baik dari Amerika.

"Kami tidak akan membahas nuklir di bawah tekanan blokade dan ancaman perang," kata seorang sumber diplomatik Iran yang enggan disebut namanya.

Alih-alih mundur, Iran justru memperketat patroli di sekitar Selat Hormuz dan meningkatkan level kesiapan tempur jet-jet tua militernya.

Teheran menganggap tuntutan Washington untuk membahas nuklir duluan hanyalah taktik untuk memperpanjang sanksi dan tekanan ekonomi terhadap negeri Persia.

Dalam proposal resmi yang bocor ke media, Iran mengusulkan pembicaraan nuklir hanya akan dimulai pada tahap ketiga setelah perdamaian benar-benar tercapai.

"Bukan gencatan senjata dulu, tapi hentikan dulu perang dan blokade, baru kita bicara nuklir," bunyi salah satu poin kunci dokumen yang diperoleh Reuters.

Menteri Luar Negeri Araghchi kini terbang ke St. Petersburg untuk berkonsultasi dengan Presiden Vladimir Putin, mencari dukungan melawan tekanan Washington.

Langkah ini memperkuat poros diplomatik alternatif Iran yang mulai terbentuk bersama Rusia dan China, dua negara yang juga kerap disanksi AS.

Sementara itu, harga minyak dunia kembali melonjak di perdagangan Selasa, 28 April 2026, akibat kebuntuan perundingan yang dipicu sikap keras Trump.

Analis memprediksi jika kebuntuan terus berlanjut, harga minyak bisa menembus 150 dolar AS per barel dalam beberapa pekan ke depan.

"Keduanya masih sama-sama keras kepala, Trump ngotot nuklir, Iran ngotot buka selat dulu," kata analis Timur Tengah dari Al Jazeera.

Perbedaan prinsip yang sangat mendasar ini membuat mediasi Pakistan yang sudah berlangsung intensif selama dua pekan terakhir berakhir tanpa hasil berarti.

Utusan khusus Trump yang dijadwalkan terbang ke Islamabad pun akhirnya batal berangkat karena Washington melihat peluang kesepakatan masih sangat jauh.

"Urungkan niat Anda untuk memaksakan kehendak, karena Iran tidak akan pernah tunduk pada intimidasi," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran yang dirilis Selasa dinihari.

Publik internasional kini hanya bisa menunggu apakah salah satu pihak akan bersedia melunak atau perang berkepanjangan dengan segala risikonya akan menjadi tak terelakkan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung