Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan olok-olok pedas terhadap Iran dengan menuding negara itu kekurangan uang hingga tak sanggup membayar gaji militer dan kepolisiannya.
Dalam serangkaian unggahan di platform Truth Social, Trump dengan nada mengejek menyatakan bahwa Iran sedang mengalami kehancuran finansial yang luar biasa akibat konflik berkepanjangan.
ADVERTISEMENT
"Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka," kata Trump merujuk pada keinginan Iran untuk mengakhiri blokade yang melumpuhkan perekonomian mereka.
Tak hanya itu, Trump juga mengolok-olok dengan menuding Iran merugi hingga 500 juta dolar AS per hari dan tidak mampu membayar personel militernya.
"Militer dan Kepolisian Iran mengeluh bahwa mereka tidak dibayar. SOS!!!" tambah Trump dalam unggahannya yang bernada sarkastik dan penuh ejekan.
Namun Teheran tidak tinggal diam dan memberikan jawaban menohok yang membalikkan tuduhan tersebut ke arah Amerika Serikat sendiri.
Jawaban menohok Iran datang dalam bentuk fakta bahwa Amerika Serikat justru mengalami kerugian material militer yang sangat signifikan akibat perang ini.
Data yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa AS kehilangan aset militer senilai lebih dari US$2 miliar atau sekitar Rp33 triliun hanya dalam empat hari pertama konflik dengan Iran pada awal 2026.
Nilai kerugian tersebut mencakup kerusakan sistem radar strategis senilai $1,1 miliar di Qatar dan hilangnya jet tempur F-15 yang sangat canggih.
Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan yang berhasil merusak sistem pertahanan vital AS termasuk radar AN/FPS-132 di Qatar dan komponen radar THAAD di Uni Emirat Arab.
Setidaknya 37 pesawat, baik yang berawak maupun nirawak, dilaporkan hancur atau rusak berat dalam 39 hari pertama konflik termasuk jet tempur F-15E dan F-35 siluman.
Biaya perang diperkirakan telah menembus angka miliaran dolar AS per hari dengan total potensi kerugian yang terus membengkak tak terkendali.
Angka kerugian ini kian membengkak setelah Iran berhasil menargetkan berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah termasuk Kamp Arifjan di Kuwait, Al-Udeid di Qatar, dan pelabuhan Jebel Ali di UEA.
Iran juga menekankan bahwa meskipun ada tekanan ekonomi, mereka masih mampu mengendalikan Selat Hormuz dan menutup jalur distribusi minyak dunia kapan saja.
"Jika Amerika ingin mempertahankan bayang-bayang perang, mereka harus tahu bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup sepenuhnya," demikian peringatan tegas dari Teheran.
Melalui kantor berita Tasnim, Iran menyebut bahwa apa yang dikatakan Trump dalam beberapa hari terakhir hanyalah gelombang kebohongan besar yang dapat diverifikasi publik.
Iran juga menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di antara pemerintahan, Ketua Parlemen, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam menghadapi tekanan AS.
Jawaban menohok Teheran ini sekaligus membalikkan tuduhan Trump bahwa Iran tidak sanggup membayar militer, dengan bukti kerugian fantastis yang justru diderita Amerika Serikat di medan perang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok