Berita, Internasional

Trump Serang Paus Leo XIV Secara Terbuka, Duel Kekuasaan dan Otoritas Moral Mengguncang Dunia

Repelita.id

13 April 2026 17:38 WIB

Trump Serang Paus Leo XIV Secara Terbuka, Duel Kekuasaan dan Otoritas Moral Mengguncang Dunia
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Paus Leo XIV kian memanas, bukan lagi sekadar perbedaan pandangan melainkan serangan terbuka yang mengguncang ruang publik global.

Dalam pernyataan panjang di platform Truth Social, Trump melabeli Paus Leo XIV sebagai sosok yang lemah dalam urusan kriminal dan buruk dalam kebijakan luar negeri.

ADVERTISEMENT

Kritik itu bukan hanya tajam tetapi juga personal, menyasar langsung legitimasi moral dan kepemimpinan sang pemimpin Gereja Katolik dunia.

“I don’t want a Pope who thinks it’s OK for Iran to have a Nuclear Weapon,” tulis Trump, menegaskan ketidaksenangannya terhadap sikap paus yang dinilai terlalu lunak terhadap isu global khususnya konflik Iran.

Pernyataan itu muncul di tengah konteks geopolitik yang memanas di mana Paus Leo XIV sebelumnya secara terbuka mengkritik retorika perang dan ancaman terhadap Iran.

Ia bahkan menyebut pendekatan kekerasan sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima dan menyerukan dialog sebagai jalan keluar konflik.

Namun Trump tidak berhenti di situ karena dalam nada yang lebih kontroversial ia mengklaim bahwa terpilihnya Paus Leo XIV tidak lepas dari pengaruh dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat.

“Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” tulisnya, seolah menempatkan dirinya sebagai faktor kunci dalam dinamika internal Gereja Katolik.

Pernyataan tersebut memantik sorotan luas mengingat Paus Leo XIV merupakan paus pertama asal Amerika Serikat sebuah fakta yang justru menambah kompleksitas hubungan antara keduanya.

Trump juga membandingkan Paus Leo dengan saudaranya bernama Louis yang ia sebut lebih memahami gerakan Make America Great Again.

Pernyataan ini semakin memperjelas bahwa kritik Trump tidak hanya bersifat kebijakan tetapi juga ideologis.

Di sisi lain, hubungan keduanya memang telah lama retak karena Paus Leo XIV sebelumnya vokal menentang kebijakan imigrasi Trump dan retorika perang di Timur Tengah.

Ia menempatkan dirinya sebagai salah satu kritik moral paling kuat terhadap kebijakan Gedung Putih selama ini.

Kini pertarungan narasi antara kekuasaan politik dan otoritas moral itu semakin terbuka di ruang publik global.

Di satu sisi Trump berdiri dengan pendekatan keras dan nasionalistik sementara di sisi lain Paus Leo XIV terus mendorong pesan damai dan kemanusiaan.

Di tengah dunia yang sedang diliputi konflik, perdebatan keduanya tak sekadar soal siapa benar dan siapa salah melainkan tentang arah nilai yang akan memimpin peradaban ke depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung