Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menghadapi dilema besar di tengah meningkatnya tekanan akibat konflik yang terus meluas dengan Iran di Timur Tengah.
Menurut laporan The New York Times, Trump mengalami tekanan politik dan militer yang berat seiring dengan memanasnya situasi di kawasan Teluk Persia.
ADVERTISEMENT
Situasi ini semakin rumit karena dukungan dunia terhadap Iran justru terus meningkat, bukan melemah.
Apalagi setelah China dan Rusia secara terbuka menunjukkan dukungan penuh kepada Teheran, membuat peta kekuatan global mulai bergeser secara signifikan.
Para pengamat menilai posisi Amerika Serikat kini mulai melemah dalam menghadapi Republik Islam Iran.
Ketegangan geopolitik dunia memasuki fase paling berbahaya setelah China menyatakan dukungan terhadap hak Iran untuk membela diri dari ancaman asing.
Pernyataan bersama antara Teheran dan Beijing langsung memicu spekulasi tentang terbentuknya poros baru global.
Banyak analis menilai poros ini dapat menantang dominasi Amerika Serikat dan Israel yang selama puluhan tahun berkuasa di Timur Tengah.
Situasi semakin panas karena Rusia juga disebut akan mengeluarkan pernyataan resmi mendukung Teheran dalam waktu dekat.
Perkembangan tersebut muncul di tengah konflik yang terus meluas sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap sejumlah target strategis Iran pada akhir Februari 2026.
Kini dunia menyaksikan perubahan besar di mana dua kekuatan besar dunia mulai menunjukkan sikap yang lebih tegas dalam mendukung Iran.
Dukungan itu dianggap sebagai tantangan serius bagi Washington yang selama ini menjadi kekuatan dominan di kawasan Timur Tengah.
China sendiri telah menegaskan bahwa mereka akan mendukung penuh Republik Islam dalam mempertahankan kedaulatan dan hak membela diri dari kekuatan asing mana pun.
Pernyataan itu disampaikan dalam komunikasi diplomatik tingkat tinggi antara Beijing dan Teheran beberapa waktu lalu.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga meminta agar serangan terhadap Iran segera dihentikan untuk mencegah konflik lebih luas.
Menurut berbagai laporan media internasional, langkah China itu bukan sekadar simbol diplomatik biasa tanpa makna.
Beijing memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas energi global, terutama terkait jalur distribusi minyak dari Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebelumnya, Beijing juga menolak tekanan Washington terkait pembelian minyak dari Iran.
Amerika Serikat bahkan sempat mengancam tarif tinggi terhadap China bila tetap membeli minyak dari Republik Islam tersebut.
Namun China menolak untuk tunduk terhadap ancaman yang dilayangkan Washington.
“Kami tidak takut pada ancaman apa pun. Anda bisa memberlakukan tarif 100 persen atau bahkan tarif 200 persen terhadap kami, tetapi kami akan terus membeli minyak dari Republik Islam,” demikian pernyataan pejabat China yang dikutip media internasional.
Sikap itu memperlihatkan bahwa hubungan Beijing dan Teheran kini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga strategi geopolitik jangka panjang.
Di sisi lain, Washington justru terlihat semakin kesulitan dalam upaya menekan Teheran.
Amerika Serikat terus meningkatkan pengerahan militer di kawasan Teluk Persia, termasuk penguatan armada laut di sekitar Selat Hormuz.
Namun tekanan militer itu belum mampu membuat Iran mundur atau menunjukkan ketakutan.
Pasukan Garda Revolusi atau IRGC justru memperingatkan bahwa setiap upaya militer asing memasuki Selat Hormuz dapat dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Iran.
Situasi ini membuat Trump disebut berada di bawah tekanan politik yang semakin berat di dalam negeri.
Beberapa analis Amerika menilai strategi Washington terhadap Iran justru memperbesar risiko konflik regional yang berkepanjangan.
The New York Times melaporkan bahwa pemerintahan Trump kini menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak terkait perang Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Tak hanya itu, dukungan terhadap Republik Islam tidak datang dari China saja.
Rusia juga diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan yang lebih tegas setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Beijing.
“Persamaan sedang berubah begitu cepat. Rusia seharusnya mengeluarkan pernyataan yang mendukung Iran segera setelah Araghchi kembali dari China besok,” demikian laporan yang beredar di sejumlah media regional.
Prediksi tersebut dinilai memiliki dasar yang kuat berdasarkan pertemuan sebelumnya.
Pada pertemuan di Saint Petersburg pada 27 April 2026, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia akan melakukan segala daya upaya untuk membantu perdamaian di Timur Tengah.
Putin juga memuji rakyat Iran yang disebutnya berjuang dengan berani dan heroik demi mempertahankan kedaulatan nasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan secara terbuka menegaskan bahwa Republik Islam memiliki hak membela diri sesuai dengan Piagam PBB.
“Kami menganggap penting untuk menegaskan kembali hak Republik Islam, dan juga semua negara lain, untuk membela diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB,” kata Juru Bicara Kemlu Rusia Maria Zakharova.
Yang menarik, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga secara terbuka mengakui adanya kerja sama militer dengan Rusia dan China.
“Iran memiliki kerja sama yang baik dengan negara-negara ini, secara politik, ekonomi, bahkan militer,” kata Araghchi seperti dikutip Anadolu Agency.
Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal bahwa Iran kini tidak lagi menghadapi tekanan Barat sendirian.
Dalam wawancara dengan NBC, Araghchi kembali mempertegas posisi negaranya di panggung internasional.
“Rusia dan China adalah mitra strategis kami. Kami telah memiliki kerja sama yang erat di masa lalu, dan itu masih berlanjut hingga hari ini, dan itu juga mencakup kerja sama militer,” ujarnya.
Pernyataan tersebut membuat sejumlah analis geopolitik menilai kerja sama Iran, Rusia, dan China mulai berkembang menjadi poros strategis baru.
Analis Arab Ahmed Al-Durzi menyebut trilateral tersebut dapat mengubah keseimbangan keamanan di kawasan Asia Barat.
Menurutnya, kerja sama tiga negara itu memperkuat kemampuan pertahanan Iran dan membatasi opsi militer Amerika Serikat di kawasan.
Selain itu, China dan Rusia juga dinilai melihat Iran sebagai bagian penting dari kepentingan ekonomi dan jalur transportasi strategis mereka.
Laporan Al-Ahram Weekly menyebut data pelacakan kapal dan citra satelit menunjukkan adanya aktivitas pengiriman bahan kimia dari pelabuhan China yang diduga berkaitan dengan program rudal Iran.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Rusia disebut memasok citra satelit dan teknologi drone kepada Iran.
Beberapa analis militer mengamati bahwa serangan rudal Iran kini semakin presisi dibandingkan sebelumnya.
Iran disebut mulai lebih fokus menyerang sistem radar dan komunikasi lawan, pola yang dinilai mirip dengan taktik militer Rusia di Ukraina.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok